src="https://ajax.googlelapis.com/ajax/libs/jquery/1.8.3/jquery.min.js"type="text/javascript">

Tuesday, January 29, 2008

STORY ABOUT PUTIH DAN BELANG

Kenanganku tentang Putih dan Belang terputar lagi. Kedua kucing kecilku yang malang, yang genap 3 tahun menghilang. Dua ekor hewan kecil yang selalu membuatku bertasbih mengagungkan kebesaran ALLAH SWT. Masih jelas kuingat, tahun 2000, ketika mama dan bapak akan berangkat menunaikan ibadah Haji. Rumah sangat sibuk dengan persiapan syukuran. Saat itu kami melihat dua ekor kucing kecil yang baru bisa berjalan, tertatih-tatih menyebrang ke rumah kami. Dua kucing kecil yang mungkin merasa lapar, sehingga harus mengalahkan rasa takutnya pada kerumunan manusia. Mama selalu mengingatkan kami untuk hati-hati agar kucing-kucing itu tidak terinjak Disela-sela kesibukan kami sempatkan sesekali melemparkan makanan untuk kedua kucing tersebut. Dengan ketakutan, mereka selalu membawa lari makanan itu ke bawah kursi dan meja yang sudah tertata. Pemandangan yang lucu sekaligus menyentuh hati. Saat itu aku bersyukur sekali diciptakan sebagai manusia dan memiliki orang tua yang sangat menyayangi. Dari tetangga depan rumah, aku baru tau kalo anak-anak kucing itu lahir diatap rumahnya. Sebetulnya ada 3 ekor, tapi yang seekor sudah mati, jatuh dari atap. Induknya entah kemana, karena sejak beberapa hari ini kedua kucing kecil itu selalu sendirian. Sedih mendengarnya...sekali lagi aku bersyukur dalam hati. Dan selama sebulan ditinggal ortu berangkat haji, jadilah aku dan saudara-saudaraku punya kesibukan baru, memberi makan dua kucing kecil. Entah butuh waktu berapa lama untuk meyakinkan kedua kucing itu percaya pada kami. Aku masih ingat, awal-awal mereka mendekati rumah kami, selalu dengan pandangan takut dan tubuh yang gemetaran. Saat itu terlintas dalam pikiranku bagaimana perasaan mereka. Apakah hewan juga punya perasaan? Setelah melewati masa-masa perkenalan itu, perlahan mereka mulai berani dan manja kepada kami. Pada awalnya mama sangat ga setuju memelihara kedua kucing itu. Bikin penyakit dan kotor kata beliau. Tapi akhirnya hati beliau luluh melihat wajah-wajah melas itu, dengan syarat mereka ga pernah boleh masuk rumah. Putih dan Belang itu nama mereka. Adikku Johan memberi mereka nama barat Michael Whitey buat Putih, dan Robert Cleret buat Belang (karena bulunya yang sleret2). Sedang aku memberi nama mandarin untuk putih : Siao Tih (artinya Si putih kecil) dan Siao Lang (si kecil belang). Kami sekeluarga sangat sayang sama mereka melebihi rasa sayang kami pada peliharaan yang lain, Si Perki (perkutut kicau), plucky (ayam horen salah asuhan yang kami pelihara dari kecil), ataupun berki (bekisar nakal yang akhirnya mati dengan cara tragis)-semuanya akan aku ceritakan terpisah-. Mungkin karena kedua kucing itu lebih bisa diajak komunikasi (ohh... Andai aku bisa mengerti bahasa hewan sebagaimana mukzizat yang dimiliki oleh Nabi Sulaiman As). Melihat Putih dan Belang selalu membuat kami sekeluarga berdecak kagum atas kebesaran ALLAH SWT. Mengingatkan betapa Mahanya ALLAH menciptakan begitu banyak makhluk yang bebeda-beda. Putih dan Belang walaupun lahir dari induk yang sama, memiliki fisik dan watak yang berbeda. Putih, badannya berisi (gendut glenuk2), wataknya pembangkang dan bandel, tapi penakut menghadapi kucing lain. Sedangkan belang berbadan atletis (kami sering menyamakannya dgn macan kecil), wataknya pemalu dan penurut, tapi suka bertarung dengan kucing lain. Satu-satunya kesamaan mereka adalah jorok dan kotor. Sama-sama ga suka mandi. Maklum...mereka sejak kecil yatim piatu. Ga ada Induk yang memandikan dengan cara menjilat-jilat tubuh mereka (SUBHANALLAH...setiap induk hewan memiliki cara tersendiri dalam menyayangi anak-anaknya). Hal yang tak mungkin terlupa dlm ingatan, ketika kami sekeluarga lagi ngobrol bersama diruang tamu. Seperti biasa Putih dan Belang ikut duduk manis didepan pintu mendengarkan obrolan kami (terkadang kami suka merasa mereka sok menjadi bagian keluarga ini). Putih yang bandel beberapa kali mencoba untuk menerobos masuk, tapi selalu berhasil kami cegah. Mama yang jengkel, ngomel sambil mengayun-ayunkan sapu lidi. Hal itu ga bikin Putih berhenti dengan aksi nekatnya. Mungkin dia menganggap itu sebagai permainan yang mengasyikkan. Hingga akhirnya, si Belang merasa jengkel dengan tingkah saudaranya itu. Pada saat Putih ancang-ancang untuk menerobos, tiba-tiba Belang menggigit tengkuk saudaranya itu. Menyeretnya kembali keluar. Kaki depannya dipukul2kan ke kepala saudaranya, seolah-olah menasihatinya. Dan si Putih yang bandel itu seperti marah, mereka berdua akhirnya bertengkar, berkelahi diteras, sampe bergulung-gulung. Kami sekeluarga hanya bisa ternganga melihatnya. Sampe akhirnya dengan wajah cemberut (wajah hewan ternyata ekspresif juga ya?), Putih pergi keluar rumah. Dan Belang dengan wajah tenangnya kembali duduk didepan pintu. Kontan, setelah tersadar kami sekeluarga serentak bertasbih dan bertakbir...SUBHANALLAH....ALLAHUAKBAR. Kami mendapatkan pelajaran berharga, bahkan hewan pun bisa mengingatkan saudaranya yang berbuat nakal. Dan hal itu tak sampai membuat kedua saudara itu bermusuhan, karena pada saat makan, mereka tetap akur makan dalam satu piring. Bahkan ketika kami memberi satu mangkuk susu sebagai hadiah atas pelajaran yang sudah kami dapat tadi, mereka saling bergantian minum. Tak ada yang nakal menghabiskan susu itu sendirian. Saat salah satu ada yang terlalu lama minum, yang lain akan mengingatkan dengan menjawil saudaranya yang khilaf itu. Lalu saudaranya tersebut akan mundur, mempersilahkan saudaranya untuk minum. Walo dengan mulut berkecap-kecap seakan belum puas menikmati susunya.Tak ada rasa dendam setelah perkelahian yang seru tadi. SUBHANALLAH....bahkan hewan pun bisa ikhlas saling berbagi dan menyayangi satu sama lain. Mengapa manusia sebagai makhluk ALLAH yag paling sempurna masih saja ada yang saling membenci? Bahkan ada yang tega membunuh saudaranya sendiri...Naudzubillahmindalik...
Begitu banyak kenangan yang ada selama Putih dan Belang bersama kami. Betapa mereka, hewan-hewan kecil itu terkadang bisa bersifat manusiawi. Bagaimana putih yang manja banget sama mas Didin, sering membangunkan mas Didin dengan menerobos masuk lewat jendela kamar. Padahal kamar Mas Didin ada diatas. Ato bagaimana saat Putih berdiri disamping Mas Didin didepan pagar. Cara berdirinya persis Mas Didin. Dua kaki depannya ikut dinaikkan memegang pagar. Andai saja aku sempat mengambil gambar itu. Manusia dan hewan peliharaannya yang kompak Putih dan Belang juga makhluk sosial. Dirumah kami ada kolam ikan, banyak kucing yang sering mampir dan minum disitu. Ato hanya sekedar ngiler melihat ikan-ikan yang sedang riang berenang. Lalu mereka menghabiskan makanan yang selalu disisakan oleh Putih dan Belang. Awalnya aku suka marah..kalo melihat Putih dan Belang tidak menghabiskan makanan mereka. Sedikit atau banyak aku memberi makan, selalu saja ga pernah bersih dimakan.Aku sering memaksa mereka untuk menghabiskannya.Tapi, kemudian aku berpikir, sepertinya mereka berdua memang sengaja berbagi dengan teman2 mereka. SUBHANALLAH...apakah ini hanya kebetulan saja?Duh...hewan-hewan lucu...apakah kita salah karena terlalu memanusiakan kalian? Ataukah memang kalian memiliki perasaan sayang juga terhadap kami? Sehingga ada jalinan diantara kita sebagai makhluk ALLAH untuk saling menyayangi. Wallahualam...Lucu juga klo ingat, saat teman dan tetangga dekat selalu berkomentar...enak banget jadi kucingnya Ruri. Tuannya makan apa..kucingnya juga pasti ikut makan. Bisa minum susu...bahkan makan bistik. Aku cuma bisa meringis..dan nawarin kalo dia mau sesuatu yang sedikit, aku juga pasti kasih dia. Coz, mama selalu ngajarin kita...apapun yang kita makan semua yang dirumah juga harus makan. Kami keluarga besar, sehingga segalanya harus berbagi. Bagaimana mungkin ketika dirumah kami makan berbagi bistik, dua kucing yang sudah jadi tanggung jawab kami tidak ikut makan. Walo cuma sepotong kecil yang tidak berarti..setidaknya mereka juga harus ikut makan. Ketika kami ga punya uang untuk membelikan pindang lauk makan mereka...apa yang ada selalu kami kasih. Ketika yang ada cuma telur, ya mereka kami beri nasi yang diremas dengan telur. Walo dengan wajah melas..kadang kedua kucing itu mencoba memberitau kami kalo mereka ga doyan. Dan jalan satu-satunya untuk mengganjal perut mereka hanya dengan memberi semangkuk susu.
Dan pada bulan Januari 2005...Putih dibuang dengan sengaja oleh salah seorang tetangga kami. Hanya mama yang melihat kejadian itu..saat putih mengeong-ngeong seolah meminta pertolongan saat dimasukkan dalam mobil yang kemudian melaju dengan kencang. Mama bilang kalo saat itu beliau sampai gemetaran. Suara kucing yang akan dibuang memang sangat menyayat hati. Dulu, mas Didin sempat mengajak Putih naik mobil njemput Yudha les. Maksudnya biar Putih bisa seperti kucing-kucing keturunan yang anggun, yang terkadang dibawa pemiliknya jalan-jalan. Sepanjang jalan Putih malah seperti kucing gila. Mungkin instingnya mengira kalo dia akan dibuang. Saat itu aku sampe ga tahan denger meongannya yang sepertinya mengiba-iba. Hal yang ga bisa aku pahami sampe sekarang...apakah tetangga yang membuang Putih itu ga punya perasaan kasihan sedikit pun, saat mendengar suara seperti itu. Ketika aku konfirmasi ke tetangga tersebut, dia membuang Putih karena menurutnya Putih sangat nakal dan sudah merusak tanamannya. Aku menangis saat itu. Aku katakan padanya andai dia bilang ke aku..aku rela membersihkan dan mengganti tanamannya yang rusak. Walo aku yakin Putih ga akan senakal itu. Karena selama ini tanaman dirumah ga pernah dirusaknya. Yang aku tau ada kucing tetangga lain yang memang suka merusak dan mengais-ngais pot. Akhirnya tetangga tersebut merasa bersalah, dia benar-benar ga tau kalo Putih itu peliharaanku. Semua sudah terjadi dan memang tak ada yang bisa dipersalahkan. Yang aku sesalkan..dia bilang sebenarnya saat itu Putih akan dibawa kekantornya..karena disana ada kantin. Tapi, ketika ditengah jalan, saat pintu terbuka sedikit, Putih lari. Aku semakin menangis saat mendengarnya. Aku dan keluargaku dulu juga pernah membuang kucing. Seharusnya adab saat membuang kucing, ialah memasukkan ke dalam karung. Selain untuk mengurangi rasa stress dan takut hewan yang akan dibuang, hewan itu juga ga akan lepas sebelum tempat yang dituju. Dan tempat untuk membuang hewan juga musti diperhitungkan..apa dia bisa mendapat makanan disana. Biasanya tempat yang pas adalah dipasar. Itu yang mama dan Bapak ajarkan ke kami. Bukankah hewan juga makhluk ALLAH yang harus kita sayangi? Selama mereka tidak membahayakan jiwa kita..bukankah kita harus bersikap adil pada mereka. Aku menangis berhari-hari saat itu. Aku merasa berdosa. Putih sudah terlanjur menjadi kucing rumahan, makan dan minumnya tergantung dari belas kasihan kami. Bagaimana nasibnya diluar sana?Adakah manusia yang berbaik hati padanya? Karena, jiwa survivalnya bener-bener ga ada. Aku ingat, saat puasa, kami membiasakan Putih dan Belang untuk makan hanya disaat sahur dan buka saja. Alhasil kelakuan mereka disiang hari sama dengan manusia yang sedang berpuasa, tidur dengan lemas. Sampai beberapa minggu kami terus berkeliling surabaya mencari Putih. Hasilnya nihil. Kami harus mengikhlaskannya. Aku percaya ALLAH akan selalu memberikan rizki pada setiap MakhlukNya. Dimanapun Putih berada rizki ALLAH pasti tersedia untuknya. Sejak Putih ”diculik” Belang juga jarang ada dirumah. Lama-lama dia sama sekali ga pernah pulang. Kata adikku dia pernah melihat Belang di gang lain (masih dalam komplek), punya anak dan istri. Hihihi...lucu banget,mengingat Putih dan Belang yang selama ini ga pernah mendekati kucing betina. Apalagi Belang. Dulu, aku sempet menduga-duga apa mereka berdua kelainan? Karena hanya sekali aku melihat Putih tergila-gila pada kucing betina yang jelek..yang kemana-mana selalu diikutinya. Tapi...mungkin (ini mungkin...karena Wallahualam)dia kalah saingan dengan kucing jantan lainnya. Karena akhirnya Putih berhenti mengejar-ngejar kucing betina itu. Dan belakangan kucing betina jelek itu terlihat berdua dengan kucing jantan yang lebih tua. Hehe...apa hewan juga bisa patah hati? Entahlah...
Hidup didunia ini hanya sementara...tapi..selama kita hidup, banyak hal yang bisa dipetik hikmahnya. Setiap saat..setiap detik. Kita memang harus banyak belajar...membuka mata dan hati untuk belajar dari setiap kejadian alam....dari seluruh makhluk ciptaan ALLAH...
Karena, walo kita adalah makhluk ciptaan ALLAH yang paling sempurna..terkadang kelakuan kita tidak lebih baik dari hewan. Terkadang hewan lebih memiliki perasaan kasih sayang dibanding manusia. Kita harus merenungkannya.....

No comments: