src="https://ajax.googlelapis.com/ajax/libs/jquery/1.8.3/jquery.min.js"type="text/javascript">

Sunday, March 26, 2017

Absurd....tanpa judul

Seorang teman bertanya, bagaimana bisa kamu menaruh hati pada seseorang yang belum pernah kamu temui. Kamu hanya tahu dia dari cerita sekilas ibumu dan cerita ibunya. Kamu hanya mengenalnya lewat balasan-balasan social media singkat dan dingin darinya. Dia bahkan tak punya keinginan untuk mencari tahu siapa dirimu. Kenapa kamu bisa senaif ini mempertaruhkan waktu yang terus berjalan untuk sesuatu yang tak pasti. Kamu menutup dirimu untuk kesempatan-kesempatan yang datang dari orang lain yang benar-benar ingin mengenalmu. Dan akupun tergugu mendengar rentetan pertanyaan itu, tak mampu menjawabnya. Lalu, berjuta perasaan yang selama ini terbendung rapi pun pecah menjadi isakan tangis. Aku sendiri tak tahu jawabannya. Bagaimana bisa? Andai bisa memilih, aku takkan menyerahkan perasaan yang langka ini pada orang yang tak tergapai. Yang aku tahu...awalnya aku hanya begitu sayang pada ibunya. Aku yang selalu terpesona pada wanita-wanita hebat ini merasa jatuh cinta pada sosok wanita hebat itu. Dari cerita sang Ibu, aku pun tergugah ingin mengenal sang anak yang menurut cerita Ibuku adalah teman mainku semasa bayi. Awalnya aku hanya kagum pada keuletannya. Secara usia kami tak jauh beda, tapi dia sudah mampu melakukan banyak hal yang belum bisa kulakukan. Yah...duniaku memang sempit. Aku hanya mengenal langsung sedikit orang seperti dia. Dan ketika mengenalnya secara maya, kekaguman ini semakin bertambah. Aku suka semuanya dari dia. Bahkan pada kecuekan dan sikap apa adanya yang mungkin bagi orang lain menyakitkan. Entahlah, mungkin aku naif. Mata hatiku telah terbutakan oleh perasaan tak jelas ini. Semakin hari, Aku semakin jatuh sayang...bukan hanya pada sang Ibu saja..tapi juga pada dia dan seluruh keluarganya. Dan kini, sudah menjelang 2 tahun aku mengenalnya. Tak ada tanda tanda bahwa dia mempedulikanku. Tak ada sesuatu yang bisa kujadikan alasan untuk tetap mempertahankan perasaan ini. Bahkan dia makin terasa jauh. Tapi kenapa hati masih tak bisa berpaling darinya. Bahkan dalam doa, masih saja kusebut namanya..masih saja kupintakan yang terbaik, keselamatan dan kebahagiaan baginya dan keluarganya. Ottokeo....aku harus bagaimana? Sungguh aku tak tahu. Yang bisa kulakukan hanya lah terus meminta pada pemilik Hatiku ini untuk diberikan ketenangan...untuk ditunjukkan yang terbaik. Aku bukan pemilih...Aku tak berniat meremehkan kebaikan niat orang-orang yang ingin mengenalku. Aku hanya tak ingin, memulai sesuatu yang baru di atas perasaan yang belum berakhir ini. 💛💛

No comments: