src="https://ajax.googlelapis.com/ajax/libs/jquery/1.8.3/jquery.min.js"type="text/javascript">

Sunday, November 21, 2010

CINTA UNTUK BUNDA

Huda menyudahi bacaan Alqur’annya. Diliriknya jam didinding kamar, masih sepuluh menit lagi adzan subuh. Disandarkannya badan ke dinding. Matanya terpejam. Bimbang hatinya belum menemukan jawaban.
”Huda...bangun, nak” Sentuhan lembut mengusap kepala Huda.
Huda membuka matanya. Kepalanya menengadah, tersenyum pada wanita berwajah bidadari yang berdiri didepannya.
”Aku ga tidur, kok Bun. Tanggung, sebentar lagi kan Subuh”, ucapnya halus.
”Oh...bunda kira kamu ketiduran. Kamu ga sholat subuh di langgar? Sebentar lagi adzan lho”, tanya bunda.
”Absen dulu, Bun. Pengen jama’ah sama bunda dirumah”,jawab Huda sambil berdiri dan membenahi letak sajadahnya.
”Ya udah kalo gitu, Bunda ambil wudlu dulu ya..?” Bunda melangkah keluar.
Ekor mata Huda mengikuti bayang wanita terkasihnya itu sampai tak terlihat lagi. Dibentangkannya sajadah untuk Bunda. Semenjak abang-abangnya menikah dan tugas kerja di luar kota, dialah satu-satunya yang menjadi imam sholat dirumah ini. Dan Bunda adalah satu-satunya makmum. Hanya Bunda dan Huda yang menjadi penerus tradisi rumah ini. Ayah dan Bunda memiliki tradisi untuk sholat tahajud berjama’ah dan membaca Alqur’an sembari menanti shubuh. Semua anak-anaknya yang sudah akil baligh diajak serta untuk melaksanakannya. Kata Ayah setiap sepertiga malam, Allah SWT akan turun untuk mendengarkan setiap permohonan hambaNya. Dan Huda sejak usia lima tahun tak mau kalah dengan keempat abangnya. Dengan terkantuk-kantuk dia selalu ikut bangun dan sholat tepat dibelakang ayah. Walo tak jarang, dia tertidur lagi pada saat sujud di rakaat pertama. Dan ketika ayah meninggal, tradisi itu terus berlanjut. Ayah meninggal tiga belas tahun yang lalu, saat dirinya masih berusia sepuluh tahun. Hal yang tak pernah dilupakannya adalah pesan terakhir Ayah agar dia selalu menjaga Bunda. Huda menghela nafas panjang. Menjaga Bunda bukanlah suatu beban baginya. Justru dia memang ingin sekali bisa mendampingi dan merawat wanita mulia itu di masa tuanya. Bahkan dia telah menetapkan salah satu kriteria wanita yang akan menjadi istrinya haruslah wanita yang bisa ikhlas mencintai bunda seperti dirinya. Tapi, kesempatan yang diperolehnya beberapa hari yang lalu membuatnya bimbang. Sebuah tawaran menarik, yang bisa mewujudkan cita-cita Bunda dan dirinya. Namun juga membuatnya terpaksa harus mengkhianati amanah ayah. Huda menghela nafas panjang sekali lagi, hatinya beristighfar berulang kali. Bunda masuk kekamarnya dengan balutan mukena, tepat saat adzan subuh berkumandang.
****
”Huda...bangun, nak. Sudah jam setengah tujuh. Kamu ngajar jam berapa?”
Huda menggeliat, mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia tersenyum malu ketika melihat Bunda telah rapi, siap untuk berangkat mengajar ngaji. Dulu Bunda adalah seorang perawat, semenjak pensiun, beliau alih profesi menjadi guru ngaji untuk ibu-ibu sekitar rumah.
”Hari ini Huda off, Bun. Ga ada mata kuliah. Tapi agak siangan nanti tetap ke kampus. Hari ini Huda wawancara lanjutan pengajuan proposal tesis penelitian. Kalo disetujui, Huda bisa dapat beasiswa S2”, jawab Huda sambil beranjak bangun.
”Ya udah, cepetan mandi. Terus sarapan. Itu sarapannya udah Bunda siapin dimeja”, perintah Bunda.
Huda meringis. Ini salah satu kehebatan Bunda. Seingatnya belum pernah sekalipun dalam hidupnya melihat Bunda lalai menyiapkan sarapan. Sesibuk apa pun, sarapan adalah nomor satu. Seusai sholat subuh, bunda tak pernah melanjutkan tidur, beliau langsung menuju dapur untuk memasak, sedangkan dirinya seringkali terlelap lagi.
Setelah mandi dan sholat Dhuha, Huda segera melahap sarapan yang telah disediakan Bunda. Rumah terasa sepi sekali. Ketika dia mandi tadi, bunda mengetuk pintu kamar mandi berpamitan. Ah...kalo dia juga pergi dari rumah ini, Bunda pasti akan kesepian desisnya. Tapi tawaran yang diterimanya beberapa hari yang lalu benar-benar tak akan datang lagi. Bermula ketika dia mengirimkan lamaran ke sebuah perusahaan pertambangan besar di negeri ini. Dan pada akhirnya setelah melewati beberapa test, dia diterima. Tawaran yang diberikan oleh perusahaan itu sangat menarik. Selain gajinya yang belasan ribu US dollar, dia juga akan mendapat kesempatan untuk melanjutkan S2 di Jepang. Hal yang amat dicita-citakannya sejak kecil. Dia ingin seperti ayah, bisa sekolah di luar negeri. Dan dengan gajinya itu, dia juga bisa segera mewujudkan impian Bunda untuk menunaikan ibadah haji. Duh Bunda..Huda bisa merasakan kerinduanmu untuk bisa menginjakkan kaki di rumah Allah itu. Sejak dulu, Almarhum Ayah dan Bunda telah menabung untuk bisa berkunjung ke Baitullah. Namun, tabungan itu tak kunjung cukup. Bahkan beberapa tahun yang lalu, tabungan itu malah terkuras habis untuk biaya berobat ketika Huda mengalami kecelakaan. Dan saat itu Bunda tersenyum ikhlas menghapus airmata yang berlinang di pipi Huda, sambil berbisik lembut.
”Pergi haji memang diwajibkan bagi yang mampu, nak. Tapi, Anak adalah amanah dari Allah. Dan wajib hukumnya menjaga amanah dari Allah. Bila bunda tak mau menyelamatkanmu padahal bunda mampu, tentu Allah akan membenci bunda. Tak apa kalo Bunda tak bisa berangkat haji. Melihatmu kembali sehat, itu sudah membuat Bunda bahagia”.
Huda bersyukur sekali dilahirkan dari rahim seorang wanita mulia seperti Bunda. Wanita yang hatinya adalah lautan cinta dan kasih yang tak terbatas. Yang memiliki kesabaran, kesetiaan dan keikhlasan yang tak berujung. Ah...Huda sangat mencintai bunda. Tegakah dia membiarkan bunda tinggal sendirian di sini. Bila hanya untuk setahun dua tahun mungkin dia masih bisa menjalaninya. Tapi sanggupkah dia meninggalkan bunda untuk belasan tahun? Karena perusahaan pertambangan yang menerimanya itu akan mengikatnya dengan kontrak kerja selama 15 tahun. Dan Huda tahu, tak mungkin bunda mau ikut serta dengannya. Beliau pasti akan lebih memilih tetap tinggal disini. Karena itu cita-citanya selama ini, bisa menghabiskan sisa usianya dengan menjadi guru mengaji. Dulu ketika Huda kuliah di kota lain, keempat abangnya meminta bunda untuk tinggal bersama salah satu dari mereka. Mereka tak mau bunda tinggal sendirian. Tapi Bunda bersikeras untuk tetap tinggal di sini. Dan selama hampir empat tahun itu bunda tinggal sendirian. Sehingga Huda dan keempat abangnya harus membuat jadwal agar setiap minggu harus ada yang bisa pulang untuk menemani bunda. Setelah lulus kuliah, Huda bertekad untuk menebus kesendirian bunda itu dengan memilih pekerjaan sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi swasta terkenal di pusat kota. Walo jarak tempuh dari rumah ke tempat kerja lumayan jauh, setidaknya dia masih bisa pulang setiap hari. Sebenarnya pekerjaan saat ini sudah memberinya gaji yang lebih dari cukup. Tapi masih perlu waktu yang cukup lama untuk bisa memberangkatkan Bunda naik haji.
”Huda..makan kok sambil melamun, Nak?’ sapaan lembut Bunda mengagetkan Huda.
”Astagfirullah...Ehh...Bunda. Kok sudah pulang, Bun? Huda ga denger salam Bunda?” tanya Huda salting.
”Ibu-ibu pada ambil rapor hari ini. Ngajinya di tunda nanti sore. Tadi Bunda udah berkali-kali salam tapi ga ada jawaban. Ga taunya kamu ngelamun di sini..”jawab Bunda sambil menarik kursi di depan Huda.
”Duduk dulu..”perintah Bunda saat Huda beranjak berdiri hendak membereskan bekas makannya.
”Bunda lihat beberapa hari ini kamu sering sekali melamun. Boleh bunda tau kenapa? Apa kamu punya beban, nak?” tanya bunda sambil menatapnya lembut.
”Emm...”, beberapa saat Huda terdiam. Tapi ketika melihat keteduhan di mata bening bunda, dirinya tau bahwa tak ada yang bisa disembunyikan dari wanita mulia itu. Akhirnya mengalirlah cerita mengenai tawaran perusahaan pertambangan yang diterimanya tempo hari. Mengenai kekhawatirannya bila harus meninggalkan bunda. Semua diceritakannya, kecuali mengenai alasannya untuk bisa mewujudkan cita-cita bunda naik haji. Dia tau Bunda adalah wanita yang tak suka membebani orang lain. Dan dia tak mau bunda malah jadi sedih, bila tau bahwa selama ini hal itu masih menjadi pikirannya. Bunda mendengarkan semua cerita Huda dengan penuh perhatian. Sesekali bibirnya menyunggingkan senyum.
“Gimana menurut Bunda? Apa Huda harus menerima tawaran itu? Apa Bunda mau ikut Huda ke Kalimantan?”Tanya Huda mengakhiri ceritanya.
Bunda tersenyum lagi. Dengan penuh kasih ditatapnya putra bungsunya itu. Sejenak kemudian beliau berucap, ” Bukannya Bunda ga mau ikut kamu, nak. Tapi..bunda sungguh berharap bisa menghabiskan seluruh sisa umur Bunda disini. Itu salah satu cita-cita Almarhum Ayahmu juga”.
”Tapi..Huda ga mungkin ninggalin Bunda sendirian disini. Huda ga mungkin mengkhianati amanah Ayah untuk selalu jagain bunda. Huda juga sudah bicara sama semua abang, dan mereka setuju kalo Bunda mau ikut sama Huda”, Huda menatap wajah bunda dengan penuh harap.
“Sayang..bunda ga mau jadi penghalang kesuksesan anak-anak bunda. Jangan kamu jadikan penolakan bunda untuk ikut denganmu ini sebagai batu sandunganmu. Insya Allah, bunda akan baik-baik saja di sini. Kita bisa saling menjaga setiap saat lewat do’a. Karena sesungguhnya hanya Allah yang selalu menjaga kita. Sungguh..bunda hanya ingin kamu mendapatkan yang terbaik, nak. Bunda tak bisa menyarankan apa-apa. Sholat isthikarahlah, mohon petunjuk Allah. Hanya DIA yang tau apa yang terbaik untukmu”, jawab Bunda dengan tulus. Mata beningnya berkaca-kaca.
Huda berdiri dan memeluk Bunda. Isak yang ditahannya sedari tadi pecah di pangkuan wanita terkasih itu.
***
Seminggu semenjak pembicaraannya dengan Bunda, akhirnya Huda mengambil keputusan untuk menolak tawaran dari perusahaan pertambangan itu. Hal ini disebabkan karena setiap kali selesai sholat istikharah, mimpinya selalu membayang wajah bunda. Bahkan semalam ayah datang dalam mimpinya, tersenyum lalu menepuk-nepuk bahunya. Hal yang dulu selalu beliau lakukan untuk menunjukkan kebanggannya pada anak-anaknya. Dan mungkin, dia harus puas bisa melanjutkan S2nya di negeri sendiri. Karena Alhamdulillah, proposal tesis penelitiannya disetujui oleh Rektorat. Sehingga beasiswa S2 dapat dikantonginya. Satu-satunya hal yang masih membuatnya sedih adalah tabungannya masih jauh untuk bisa memberangkatkan Bunda ke tanah suci. Dalam setiap sujudnya, dia tak pernah henti memohon pada Allah. Agar diberi kemudahan dalam mewujudkan cita-cita itu.
Huda baru saja selesai dari munajat dhuhanya, ketika pintu ruang tamu diketuk.
”Assalamu’alaikum...bunda”sapa suara di luar.
”Wa’alaikumsalam Warrahmatullahi Wabarakatuh, bang..sebentar ya..”.
Dengan bergegas, Huda membukakan pintu. Itu suara bang Ridwan, kakak ketiganya. Begitu pintu terbuka, dia dan bang Ridwan saling memeluk. Diciumnya tangan abangnya itu.
”Pulang kok ga kasih kabar dulu, Bang?”, tanya Huda sambil mengangkat barang bawaan kakaknya.
”Mendadak ini, dik. Sebenarnya kakakmu Vira juga pengen ikut sowan ke bunda. Tapi kantornya ga ngijinin dia untuk cuti dadakan,”jawab Bang Ridwan sambil menghempaskan dirinya ke kursi.
”Bunda mana, dik? Sepi banget? Kamu juga kok belum berangkat ngajar?” tanya bang Ridwan heran.
”Bunda sudah berangkat ngajar ngaji, bang. Saya hari ini cuti. Lagipula kampus lagi libur semesteran”, jawab Huda setengah berteriak dari dapur.
“Memang ada apa tho,bang? Kok mendadak banget pulang ”, tanya Huda sambil meletakkan secangkir teh hangat di meja.
Bang Ridwan segera menyeruput teh yang dihidangkan Huda, lalu menjawab.
”Begini, lho dik. Abang dan kak Vira sudah lama menabung untuk bisa berangkat haji. Dan tahun ini tabungan itu sudah cukup untuk biaya haji satu orang. Kakakmu Vira mendesak abang untuk berangkat terlebih dahulu tahun ini. Dan Alhamdulillah, dua hari yang lalu Abang mendapat rejeki dari Allah. Kantor memberi abang kesempatan untuk berangkat haji tahun ini. Semua biaya ditanggung oleh kantor. Jadi, abang kemari untuk meminta kesediaan bunda berhaji bersama abang tahun ini”.
Jantung Huda berdegup kencang mendengar penjelasan abangnya. Ya, Rabb..apakah ini jawaban dari do’a hamba?
”Lalu kak Vira bagaimana? Bukankah tabungan itu hak dia..?”, tanya Huda bergetar. Dia belum yakin dengan perkataan abangnya.
”Kakakmu berpendapat, rejeki yang abang dapat dari kantor itu adalah rejeki bunda. Karena bunda yang tak pernah henti mendoakan kesuksesan abang. Jadi intinya sebenarnya abang berangkat dengan uang tabungan kami. Dan kesempatan dari kantor itu adalah rejeki Allah untuk bunda ”, jelas Bang Ridwan.
Hati Huda haru mendengar penjelasan itu. Ya Rabb..terima kasih karena Engkau telah menyandingkan abangnya dengan wanita berhati bidadari.
Dalam sujud syukurnya, terngiang ayat-ayat Al Qur’an yang dibacanya seusai tahajud tadi. ”Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu. Agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”(Q.S. Al Baqarah :186).
Alhamdulillah ya, Allah...atas cintaMu untuk Bunda...

Surabaya 2004 by Rhie

CINTA MUTIARA...

Ra menatap lembaran lusuh ditangannya dengan penuh makna. Dia sudah berulang kali membaca tulisan didalamnya. Terutama disaat ia merasa imannya sedang ngedrop. Isi tulisan itu bercerita tentang penderitaan seekor anak kerang yang akhirnya berubah menjadi sebutir mutiara yang indah. Ra paling senang dengan tulisan pengantarnya.
Cerita ini adalah sebuah paradigma yg menjelaskan bahwa penderitaan adalah lorong transendental untuk menjadikan "kerang biasa" menjadi "kerang luar biasa". Karena itu dapat dipertegas bahwa kekecewaan dan penderitaan dapat mengubah "orang biasa" menjadi "orang luar biasa".
Kamu tau, Ra kenapa jumlah orang yang sukses lebih sedikit dari orang yang `biasa-biasa saja'. Karena banyak orang yang mundur saat berada di lorong transendental tersebut, karena mereka tidak tahan dengan cobaan yang mereka alami. Padahal sebenarnya ada dua pilihan yang bisa mereka masuki: menjadi `kerang biasa' yang disantap orang atau menjadi `kerang yang menghasilkan mutiara'. Tapi,sayangnya, lebih banyak orang yang mengambil pilihan pertama.
Mungkin saat ini kamu sedang mengalami penolakan, kekecewaan, patah hati, atau terluka karena orang-orang di sekitar kamu. Cobalah untuk tetap tersenyum dan tetap berjalan di lorong tersebut, sambil katakan di dalam hatimu.. "Airmataku diperhitungkan Allah SWT... dan penderitaanku ini akan mengubah diriku menjadi mutiara." Semoga..kamu bisa menjadi mutiara itu ya,Ra?
Jadi, tetep semangat dan senyum aja deh....Mutiara, Fighting!!
Ya...Allah saat ini aku ingin sekali bertemu dengan penulis surat ini, batin Ra. Sudah sebulan ini Ra dibuat bingung. Tiba-tiba mas Awang ga pernah menghubunginya lagi. Mas Awang juga sulit banget dihubungi. Dikirimi imel ga pernah bales. Disms, failed mulu.Terakhir, ketika Ra udah bersorak girang karena akhirnya Hp mas Awang bisa dihubungi, dia tetap harus kecewa. Puluhan kali mencoba menelpon ulang, mas Awang tetap ga pernah angkat. Sedemikian sibukkah kamu, Mas? Hingga susah banget buat aku untuk sekedar tau kabarmu, keluhnya. Padahal banyak hal yang pengen aku ceritain. Tentang gimana perasaannya karena besok akan diwisuda. Gimana senengnya dia karena mulai minggu depan sudah mulai bekerja di sebuah perusahaan bonafid. Aku udah mulai ngerti gimana perasaan kerang kecil itu waktu berubah jadi mutiara, mas. Tapi..kenapa justru disaat aku pengen berbagi kebahagiaan ini kamu malah jauh banget, bisik Ra dalam hati.
“Duaarrr...Hayo...ngelamun terusss”, seru Nayla tiba-tiba.
Ra pura-pura menggerutu. Sahabatnya yang satu ini memang hobi banget ngagetin orang.
”Eh...kok ngedumel? Anak gadis ga boleh hobi ngedumel lho. Ntar bisa jauh dari jodoh”.
”Bodo ah....”
”Eh...ga percaya. Itu kata orang tua jaman dulu lho, Swear”, Nayla mengacungkan 2 jarinya dengan wajah sok innocent. Dia ga sadar jilbabnya mencong, maklum Nayla baru seminggu mulai pake jilbab.
”Sok teu..deh. Lagian apaan juga pake swear2. Ga islami banget seh...”,sembur Ra gemas sambil membetulkan jilbab sahabatnya itu.
“By the way nih, kalo boleh tau lagi ngelamunin apa seh Ra”?, tanya Nayla hati-hati. Dia tau banget kalo sahabatnya ga suka dipaksa untuk bercerita.
”Biasalah, Nay...mas Awang. Sampe sekarang ga kasih kabar apa-apa” ,jawab Ra sendu.
“Emmm..dia lagi tho. Kirain..mikir apaan. Serius banget. Kamu itu, Ra. kayak ga ada yang lebih penting aja buat dipikirin”.
Gubrak...ucapan Nayla barusan bener-bener masuk kedalam dasar hati Ra. Kayak Ga ada yang lebih penting??!! Ya Rabb..emang siapa mas Awang. Sampe-sampe Ra harus selalu memikirkannya.
”Ra...maaf, aku ga maksud...”,buru-buru Nayla menjelaskan maksudnya.
”Sudahlah..never mind. Lagian kamu bener banget..Makasih ya, Nay udah ngingetin.”, potong Ra sambil memeluk Nayla yang kebingungan.
”Ra...kamu ga papa kan? Aku...”, Nayla makin bingung harus berkata apa.
”Ga papa. Emang aku keliatan kenapa sih? Kamu udah selesai kan? Gordon en togamu udah diambil? Kalo udah kita pulang yukk”, jawab Ra riang.
Nayla yang hanya bisa mengangguk akhirnya menurut saja tanpa protes ketika Ra menarik tangannya untuk pulang.
***
Malam ini Ra duduk bersila dikasurnya. Tadi pagi dia baru aja diwisuda. Ucapan selamat melalui telpon dan sms tak henti-henti mengalir untuknya. Dari sahabat-sahabatnya dan juga dari ketiga abangnya. Dan yang paling mengharukan baginya adalah saat mama dan papa menciuminya dengan bangga. Akhirnya...Ra, si bungsu yang paling bandel. Anak perempuan satu-satunya di keluarga, dan juga anak yang paling bodoh dirumah ini bisa menyelesaikan kewajibannya. Ra senang banget...akhirnya bisa membuat mama dan papa bahagia. Dibukanya lembaran lusuh itu lagi...Mas Awang, Ra merasa udah jadi mutiara yang paling indah saat ini. Astaghfirullah...kok jadi narsis gini ralat Ra dalam hati. Ampuni hamba ya, Allah. Padahal semua ini bisa terjadi hanya karena Cinta-Mu semata. Terima kasih ya Allah...untuk segala keindahan ini. Terima kasih karena Engkau telah memberiku keluarga, sahabat dan orang-orang yang terbaik. Terima kasih...karena Engkau telah ijinkan hamba bertemu dengan mas Awang. Yang telah mengajarkan hamba tentang ikhlas, sabar en syukur. Ra bangkit, dia belum sholat Isya. Dia ingin mencurahkan semua perasaan bahagia dan syukurnya lewat sujudnya kepada The Truly of Love...ALLAH SWT.
***
Ringtone shalawat badar berbunyi tepat saat Ra selesai melipat mukenanya. Ada binar bahagia dimatanya saat melihat siapa yang mengiriminya sms. MasAwang...akhirnya.....
Ass.Wr.Wb..Selamat,Ra atas wisudanya. Semoga makin sukses. Keep Istiqomah ya....Wass.Wr.Wb
Kok singkat banget, batin Ra. Ditekannya nomor itu...terdengar nada sambung alunan suara Opick menyanyikan lagu Tombo Ati.. Duh..Rabb, kenapa tiba-tiba jantungnya terasa berdegup lebih kencang? Perasaannya nervous...seakan dia akan berbicara dengan orang penting. Tutt...tutt...tutt..upss..terputus. Ra menekan tombol redial. Perasaannya semakin ga karuan...tangannya menjadi dingin, menanti sapaan salam dari mas Awang. Namun keningnya berkerut ketika telponnya terputus lagi. Dua kali dicobanya..tetap ga diangkat. Dikirimnya sms.
Wa’alaikumsalam.Wr.Wb..mas kok ga mo angkat telp sih. Lagi bussy ya?Jangan bikin bingung,dong. Balas!!
Sampe satu jam lebih Ra tunggu..tetap ga ada balasan. Ada apa ya...tanyanya dalam hati. Kenapa sekarang Mas Awang jadi aneh seperti ini? Ga pernah sms..ga pernah mau menerima telponnya. Apa aku sudah menyinggung perasaannya?Diingat-ingatnya saat terakhir dia ngobrol ditelpon dengan Mas Awang. Ga ada yang salah..mereka cuma berdebat seperti biasa mengenai hidup. Mas Awang hanya mengomentari sifat Ra yang masih suka moody.
”Hati-hati, Ra..jangan-jangan kamu kena bipolar disorder...”canda mas Awang saat itu. Bipolar disorder atau yang sering disebut dengan istilah manik-depresi adalah penyakit kejiwaan yang diakibatkan kelainan fungsi otak. Efeknya adalah, mood bisa mendadak berubah drastis.
”ehh..maaf ya, mas. Aku ga pernah stress kok. Pola hidupku juga normal-normal aja..no drugs and no alcohol pula..so..ga ada faktor pencetus yang bisa bikin aku kena depresi...lagian semua orang normal juga pasti pernah ngalami perubahan mood,”balas Ra membela diri.
”Eitss..jangan salah,non..manik-depresi bisa terjadi tanpa ada faktor pencetus. Emang sih..belum diketahui penyebab pastinya. Tapi yang jelas..kalo mood seseorang suka berubah-ubah ada kemungkinan dia bisa terkena bipolar disorder,lho...”.
Hiyy..Ra gemes sekali...mas Awang emang suka banget nakut-nakutin.
”Tau ahh..lagakmu,mas...kayak psikiater aja..nyebelin!pokoknya aku ga akan dan ga mau kayak Britney Spears..titik..”.
Mas Awang tertawa kecil ”Iya deh percaya. Kamu ga akan seperti Britney Spears. Lha wong dia kafir,kok. Kalo kamu kan percaya sama ALLOH...Sang Pemilik Semesta.Tapi coba belajar dong buat ngontrol emosi, Ra. Katanya pengen hijrah jadi muslimah yang baik. Tapi kok tetep moody?Digodain dikit aja langsung nyolot..”.
Begitulah mas Awang..dengan caranya itu, dia selalu bisa menasihati Ra yang bandel, yang suka berkilah. Mas Awang berbeda dengan ketiga abangnya yang suka jengkel kalo Ra mendebat nasihat mereka. Dia tau bagaimana menghadapi Ra, terkadang nasihatnya tidak selalu terucap lewat perkataan, tapi juga lewat sms-sms tausiyah dan juga email. Seperti cerita mengenai kerang kecil ini, bisik Ra sambil meraih kertas lusuh yang tergeletak dikasurnya. Cerita ini ditulis mas Awang untuknya (katanya sih nyadur dari Internet), saat dia sedang kecewa dengan dirinya sendiri. Ketika itu proposal skripsinya ditolak untuk yang kedua kalinya. Ra sedih dan bingung. Sebagai bungsu, dia sering merasa tak berarti dibanding ketiga abangnya yang sudah sukses semua. Dan mas Awang yang mengetahui hal ini, mengirimkan cerita ini untuk full up spiritnya. Mas Awang tau, Ra bukanlah seseorang yang mudah menceritakan seluruh isi hatinya. Karena itu mas Awang ga mau menasihati Ra secara lisan, cukup melalui sebuah cerita. Inilah yang membuat Ra suka dengannya. Mas Awang itu cowok paling sabar, paling pengertian dan paling baik sedunia...walo kadang suka nyebelin.Wait a minute...apa yang tadi dia katakan?Suka..? Ra mulai salting memikirkan perkataannya sendiri. Apa bener dia suka dengan mas Awang. Suka dalam artian apa nih. Apa suka hanya dalam artian sebagai teman sharing atau dalam artian yang lain?Tapi kalo dia hanya menyukai mas Awang sebagai teman kenapa akhir-akhir ini dia suka merindukannya. Kenapa dia jadi deg-degan setiap akan berbicara dengan mas Awang. Kenapa disaat senang atau sedih, orang pertama yang diingatnya adalah mas Awang. Kenapa dia merasa mas Awang adalah orang yang penting dalam hidupnya.Ya Allah...kalo itu bener...berarti selama ini dia sudah melakukan zina hati? Ra...menghempaskan tubuhnya ke kasur. Dia lemas sekali. Ra merasa sudah melakukan kesalahan besar. Dia tak mampu menjaga hatinya. Dulu sahabat-sahabat mengajinya pernah memperingatkan dia mengenai kedekatannya dengan mas Awang. Saat itu Ra ngotot..dia dan mas Awang hanya bersahabat. Ra bersikeras dia hanya menganggap mas Awang sebagai abangnya, brother in islam. Dari mas Awang, Ra banyak belajar tentang hidup dan agama. Mereka cocok karena sama-sama memiliki visi to be a better human, everytime must be better. Sebenarnya Ra pernah merasa takut juga dengan hubungan ini. Tapi semua itu ditepisnya dengan keyakinan dia akan bisa menjaga hatinya. Toh mas Awang tinggal di kota yang berbeda. Mereka baru dua kali ngobrol secara face to face, itu pun dirumah dengan di dampingi mama dan papa. Tak pernah ada kontak fisik, walo sekedar untuk berjabat tangan. Mas Awang orang yang ngerti agama, dia tau batasan pergaulan dengan yang bukan muhrimnya. Tapi saat ini...tiba-tiba Ra meragukan kesucian hatinya sendiri. Dia harus mengakui, perasaannya terhadap mas Awang sudah bukan sekedar rasa seorang sahabat lagi. Itu bisa dilihat dari rasa kehilangannya akhir-akhir ini, saat mas Awang mulai menjauh darinya. Ya Rabb...ampuni hamba, tangis Ra. Dia teringat akan hadist Rasulullah Saw :”Ingatlah bahwa dalam jasad itu ada sekerat daging, jika ia baik, baiklah jasadnya seluruhnya, dan jika ia rusak, rusaklah jasad seluruhnya. Ingatlah, ia adalah hati” (H.R. Bukhari dan Muslim). Duh...betapa rusaknya diriku ini ya Rabb...isak Ra. Bantalnya seketika basah oleh linangan air matanya. Dia teringat kata-kata Nayla kemarin. Sahabatnya itu benar. Akhir-akhir ini seperti ga ada yang lebih penting baginya selain memikirkan mas Awang. Ya Allah...ampuni hamba...ucapnya berulang-ulang. Hingga akhirnya Ra tertidur dalam lantunan istigfhfarnya, dalam linangan airmatanya.
***
Pukul 03.00 pagi Ra terbangun. Matanya sembab. Kepalanya sedikit pusing karena dia tertidur dalam keadaan menangis. Air wudlu meringankan denyut dikepalanya. Cukup lama Ra hanyut dalam khusyuknya qiyamul lail. Tak henti-hentinya dia memohon ampun pada Allah atas kekotoran hatinya selama beberapa bulan ini. Ra juga memohon kekuatan agar dapat selalu menjaga kesucian hatinya. Ra ingin, setelah Allah dan RasulNya, selain papa dan abang-abangnya hanya laki-laki yang menjadi suaminyalah yang boleh mengisi hatinya. Yang bisa mendapatkan segenap cintanya. Ra menunggu shubuh sambil membaca Al Qur’an. Surat yang dibacanya adalah Surat Al Israa’. Hati Ra bergetar hebat saat membaca ayat 32 yang artinya adalah :”Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan jalan yang buruk”. Betapa Allah telah memperingatkan manusia dengan tegas mengenai zina, namun kenapa masih banyak manusia termasuk dirinya yang tenggelam dalam zina. Entah itu zina fisik ataupun hanya sekedar zina hati. Seharusnya Ra tidak menghalalkan alasan apapun untuk membiarkan dirinya dekat dengan lelaki yang bukan muhrimnya. Mas Awang adalah teman kuliah Bang Ridwan, kakaknya yang nomor tiga. Sebenarnya Ra sudah mengenalnya dua tahun yang lalu, saat menghadiri acara wisuda bang Ridwan. Tapi baru enam bulan ini mereka menjadi dekat, walo hanya sekedar melalui telpon dan sms. Ra merasa belajar banyak dari mas Awang mengenai konsep hidup dalam Islam. Sebagai bungsu, Ra tidak menerima perhatian secara penuh dari mama dan papa. Mereka begitu sibuk mengurus perusahaan yang mereka rintis dari nol. Beruntung Ra memiliki empat abang yang selalu menjaga dan mengarahkannya. Dulu Ra begitu bebal ketika abang-abangnya mencoba menanamkan nilai-nilai islami pada dirinya. Entahlah mungkin hidayah Allah belum menyentuhnya saat itu. Dan ketika dua tahun yang lalu ketika Ra telah mantap untuk hijrah menjadi seorang muslimah sejati, ketiga abangnya satu persatu malah pergi meninggalkannya. Kakak pertamanya, Bang Burhan di dipindah tugas ke Singapura. Bang Harun, Yang kedua bekerja di pertambangan lepas pantai Kalimantan. Kemudian Bang Ridwan setahun yang lalu mendapat tugas belajar ke Jepang dari perusahaannya. Ra yang tengah kehilangan figur seorang abang secara tidak sengaja mengenal mas Awang. Orang yang kemudian sangat intensif memberinya perhatian dan dukungan. Yang mengajarkannya banyak hal, tentang hidup dan islam. Duh...tapi itu tetap bukanlah suatu alasan yang bisa membenarkan kedekatan mereka. Terbukti akhirnya semua itu telah mengotori hati Ra. Ampuni hamba ya Rabb...bisiknya sendu.
***
Setelah sholat shubuh, Ra membuka komputernya untuk mengecek email. Karena beberapa hari ini dia tak pernah sempat. Dan Ra bersorak girang saat menemukan email dari bang Ridwan. Email itu dikirim tadi malam. Dan sesaat kemudian, hatinya menjadi gerimis saat membacanya. Matanya pun mulai basah.
Assalamu’alaikum.Wr.Wb....Mutiara adikku tersayang.
Sekali lagi abang ucapin selamat buat wisudanya ya...maaf abang belum bisa pulang. Walo gitu abang selalu titip do’a buat kamu,dek.
Ra sayang..abang mau minta maaf sama kamu. Abang sungguh nyesel, karena tindakan bodoh abang sudah menjerumuskan kamu. Sebenarnya, abang bingung waktu harus segera berangkat ke Jepang. Abang khawatir banget sama kamu. Saat-saat kamu sedang berjuang menyelesaikan skripsi, ga ada seorang pun yang bisa mendampingi. Karena itu, abang minta tolong sama Awang untuk mendekatimu. Agar dia bisa membantu seandainya kamu membutuhkan bantuan. Abang khilaf,dek. Abang lupa, bagaimana pun Awang bukanlah muhrim buatmu. Abang sudah menjerumuskanmu dalam lumpur dosa. Dari Awang, abang tahu kalo kesucian hatimu ternoda. Abang sedih sekali, waktu tahu betapa kamu menjadi begitu tergantungnya terhadap Awang. Sampe-sampe surat lusuh dari Awang selalu kamu bawa kemana-mana sebagai penyemangatmu (mama yang kasih tau). Dan bukan hanya abang saja yang merasa sedih, Ra. Awang juga. Dia merasa sedih dan bersalah karena ga bisa menjaga kesucian hatimu dan juga hatinya. Sebenarnya sejak awal ketemu kamu dulu dia sudah tertarik sama kamu,Ra. Hanya saja dia menunggu waktu yang tepat untuk bisa langsung meminangmu. Yaitu, ketika kamu sudah lulus kuliah. Awang laki-laki yang baik, Ra. Dalam kamus hidupnya dia tidak mengenal prinsip pacaran. Awalnya dia gak mau memenuhi permintaan abang untuk mendekatimu dengan cara seperti itu. Tapi abang telah memaksanya, dan berdalih supaya dia menganggap ini bagian dari proses ta’aruf. Maafkan abang...abang bener-bener khilaf. Abang terlalu sayang sama kamu, Ra. Terkadang rasa sayang berlebihan memang malah menjerumuskan orang yang disayanginya. Back to Awang...tadi dia meminta abang untuk memintakan maafmu. Kamu pasti tahu kan kenapa sekarang dia menjauhimu. Karena dia merasa berdosa, Ra. Dia ga ingin meneruskan hubungan yang gak syar’i ini. Yang hanya akan semakin merusak hatimu dan hatinya. Awang ingin segera meminangmu, dek. Bila kamu setuju, mungkin dalam waktu dekat ini. Abang akan membicarakannya dengan papa dan mama. Sebelumnya abang ingin tahu dulu pendapatmu mengenai ini. Besok pagi abang akan menelponmu. Sekali lagi abang ingin meyakinkanmu..kali ini abang gak akan salah, kalo Awang benar-benar laki-laki yang Insya Allah sesuai untukmu. Abang sudah lama kenal dengan dia. Dia pasti bisa menjadi imam yang baik untukmu, Ra.
Wassalamu’alaikum.Wr.Wb
Ra mengusap tetesan bening di pipinya. Ya Allah...benarkah ini? Benarkah mas Awang adalah jodoh yang telah dipersiapkan Allah untuknya? Diakah Cinta sejati yang akan menemaniku dalam perjuangan suci meraih cintaMu ya, Rabbb? Ra seakan tak percaya. Semuanya berjalan begitu cepat. Tak ada seorangpun yang dapat menebak rencana yang telah dibuat Allah. Ra merasa hatinya kini sedang bersemi, penuh dengan bunga-bunga indah bermekaran.
Tiba-tiba terdengar senandung ustadz Jefri bershalawat badar dari Hp Ra. Upps...Bang Ridwan calling...
Ra bingung bagaimana harus mengungkapkan perasaannya pada abangnya itu. Seandainya abangnya melihat., kini wajahnya bersemu merah jambu.

Surabaya 2004 by Rhie