Whehe..sepuluh hari menjelang Lebaran, setiap perempuan pasti punya beberapa ritual khusus. Selain bersih2 akbar..juga ritual bikin kue.Whehe..senangnya..udah mulai mencium aroma Lebaran. Minggu ini aq memulai bikin kue dulu. Bersih-bersihnya minggu depan, setelah kue jadi. Sekalian ntar ngembaliin oven en temen2nya ke tempat semula.
Ritualnya aku mulai sejak abis sahur tadi,en baru aj selesai. Bikin 2 jenis kue :putri salju en Choco chips ala dakuw yang katanya Danik bikin ketagihan (whehehe..rayuan maut danik). Alhamdulillah..dengan modal yang seminimal mungkin, hasilnya maksimal. Hehe..prinsip ekonomi tercapai nih. Rencana besok baru bikin nastar.
Ini nih resep andalan yang ku pake :
Choco Chips
Bahan :
3 Kuning telur
Margarin 200 gram
Gula halus 150 gram
Terigu 300 gram
Maizena 25 gram
Coklat Bubuk 30 gram
Susu Bubuk 15 Gram
Mente 100 Gram (Bisa pake bisa Gak)
Coklat Chips 150 gram
Cara Membuat :
1.3 Kuning telur + Margarin + gula halus dimixer sampai lembut.
2.Setelah itu masukkan tepung dengan spatula kemudian bahan-bahan lainnya. Aduk sampai rata.
3.Cetak dengan menggunakan dua sendok kecil (kalo males bisa dicetak dengan cetakan bentuk bintang ato hati.Coklat Chips ga dicampur dalam adonan,tp dipasang sebagai hiasan).
4.Open sampai matang.
Putri Salju Keju
Bahan :
Tepung terigu 1/2 kg
Margarine 250 gram
Keju 50 gram (parut)
Gula halus secukupnya
Cara Membuat :
1.Tepung terigu digoreng sangan. Dinginkan.
2. Margarine dikocok sampai lembut.
3. Masukkan tepung terigu,dan keju parut. Aduk sampai rata.
4. Cetak dengan bentuk bulan sabit
5. Open sampai matang.
6. Setelah dingin, gulingkan dalam gula halus.
"Hendaknya kita menyadari bahwa musibah yang menimpa kita bukanlah untuk memusnahkan kita, sesungguhnya kehadiran musibah tersebut hanyalah untuk menguji sampai dimanakah kesabaran kita"(Ibnu Qayyim). Roda kehidupan tak pernah berhenti berputar. Setiap manusia selalu mengalami perputarannya. Saat duka menghampiri, janganlah bersedih..yakinlah bahwa bahagia akan segera menghampirimu. Sesungguhnya kehidupan ini selalu indah bila kita pandai bersyukur dan mencari hikmah dalam setiap kejadian.
Saturday, September 20, 2008
Monday, September 15, 2008
Nyadurr..
Lagi males nulis..lagi suka jd plagiat. Abis nemu puisi bagus dr blog FS temennya temen. Judulnya Do'aku. Aku rasa ini jg menjadi do'a banyak wanita yg mencintai RabbNya. Termasuk aq. Pas banget,secara..abis diskusi sm salah seorang brother about Cinta diatas Cinta. Smg..aq en semua org2 terdekatku bisa selalu istiqomah dijalanMu ya,Rabb..
Btw,ini ni puisi DO'AQ by Amanda..
Tuhanku,
Aku berdoa untuk seorang pria, yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau dan RasulMu.
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.
Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting.
Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintaiMu dan haus akan Engkau
Dan memiliki keinginan untuk menjadi kekasihMu.
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup,
Sehingga hidupnya kelak tidak akan sia-sia.
Seseorang yang memiliki hati yang bijak dan bukan hanya otak yang cerdas.
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.
Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku.
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi.
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada di sebelahnya.
Aku tidak meminta seorang yang sempurna,
Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna,
Sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya dan kegundahannya.
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
Dan aku juga meminta :
Buatlah aku menjadi seorang wanita yang dapat membuat pria itu bangga dan bahagia memiliki aku.
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU,
sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
Berikanlah hatiMU yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMU bukan dari luar diriku. Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya
dan bukan hal yg buruk saja.
Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU
sehingga dapat memberinya semangat, agar aku dapat mendukungnya setiap hari.
Berikanlah aku bibirMU agar aku dapat tersenyum padanya di setiap hari-hariku.
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu,
Aku berharap kami berdua dapat mengatakaan “betapa besarnya Allah itu”,
karena Engkau telah memberikan padaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi Sempurna".
Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan.
Btw,ini ni puisi DO'AQ by Amanda..
Tuhanku,
Aku berdoa untuk seorang pria, yang akan menjadi bagian dari hidupku.
Seorang yang sungguh mencintaiMU lebih dari segala sesuatu.
Seorang pria yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau dan RasulMu.
Seorang pria yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untukMU.
Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting.
Yang paling penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintaiMu dan haus akan Engkau
Dan memiliki keinginan untuk menjadi kekasihMu.
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidup,
Sehingga hidupnya kelak tidak akan sia-sia.
Seseorang yang memiliki hati yang bijak dan bukan hanya otak yang cerdas.
Seorang pria yang tidak hanya mencintaiku tetapi juga menghormati aku.
Seorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi dapat juga menasehati ketika aku berbuat salah.
Seorang yang mencintaiku bukan karena kecantikanku tetapi karena hatiku.
Seorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam tiap waktu dan situasi.
Seseorang yang dapat membuatku merasa sebagai seorang wanita ketika berada di sebelahnya.
Aku tidak meminta seorang yang sempurna,
Namun aku meminta seorang yang tidak sempurna,
Sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMU.
Seorang pria yang membutuhkan dukunganku sebagai peneguhnya.
Seorang pria yang membutuhkan doaku untuk kehidupannya.
Seseorang yang membutuhkan senyumanku untuk mengatasi kesedihannya dan kegundahannya.
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna.
Dan aku juga meminta :
Buatlah aku menjadi seorang wanita yang dapat membuat pria itu bangga dan bahagia memiliki aku.
Berikan aku sebuah hati yang sungguh mencintaiMU,
sehingga aku dapat mencintainya dengan cintaMU, bukan mencintainya dengan sekedar cintaku.
Berikanlah hatiMU yang lembut sehingga kecantikanku datang dariMU bukan dari luar diriku. Berilah aku tanganMU sehingga aku selalu mampu berdoa untuknya.
Berikanlah aku mataMU sehingga aku dapat melihat banyak hal baik dalam dirinya
dan bukan hal yg buruk saja.
Berikan aku mulutMU yang penuh dengan kata-kata kebijaksanaanMU
sehingga dapat memberinya semangat, agar aku dapat mendukungnya setiap hari.
Berikanlah aku bibirMU agar aku dapat tersenyum padanya di setiap hari-hariku.
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu,
Aku berharap kami berdua dapat mengatakaan “betapa besarnya Allah itu”,
karena Engkau telah memberikan padaku seseorang yang dapat membuat hidupku menjadi Sempurna".
Aku mengetahui bahwa Engkau menginginkan kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segala sesuatunya indah pada waktu yang Kau tentukan.
KETIKA MAS GAGAH PERGI...Sweet story
Ni salah satu cerpen fave-ku.Buagus banget..ga pernah bosen ngebacanya.Cerpen karangannya Mbak Helvy. Ceritanya bikin terharu dee..
Ketika Mas Gagah Pergi
Oleh : Helvi Tyana Rosa
Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.
Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.
Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.
"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"
"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"
"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"
Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?
"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.
Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!
Itulah Mas Gagah!
Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…
"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!
"Assalaamu’alaikum!"seruku.
Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.
"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.
"Matiin kasetnya!"kataku sewot.
"Lho memangnya kenapa?"
"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.
"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"
"Bodo!"
"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."
"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"
"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"
"Pokoknya kedengaran!"
"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"
"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.
Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"
"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.
Oala.
Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.
Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"
Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!
Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.
"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"
"Lain gimana Ma?"
"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"
Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."
Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."
Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.
Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"
"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"
"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"
Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"
Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"
Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."
Mas Gagah tersenyum.
"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.
"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"
Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.
Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.
"Mau kemana Gita?"
"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."
"Ikut Mas aja yuk!"
"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"
Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.
"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.
"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.
Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."
Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!
"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.
"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.
"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."
Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.
"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."
Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.
"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.
"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"
Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.
"Mbak Ana?"
"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.
"Hidayah."
"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"
"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.
‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.
"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…
"Cuma lagi baca!"
"Buku apa?"
"Tumben kamu pingin tahu?"
"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.
"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.
"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.
"Maaas…"
"Apa Dik Manis?"
"Gita akhwat bukan sih?"
"Memangnya kenapa?"
"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.
Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.
Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.
"Mas kok nangis?"
"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."
Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…
"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.
"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.
"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"
"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.
Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.
Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.
"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"
Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.
Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakakan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.
Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."
Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.
"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.
"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.
"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.
"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.
"Lho! " Mas Gagah bengong.
Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"
Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.
Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.
Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.
Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.
"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.
"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.
"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.
"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"
"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "
"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.
Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.
"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.
Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.
"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.
Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.
"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.
Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.
"Kriiiinggg!" telpon berdering.
Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"
"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.
"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.
"Mas Gagaaaaahhhh" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.
Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.
" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.
Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."
Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.
"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.
Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.
"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.
Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."
Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."
"Gita…" suaraku serak menahan tangis.
Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.
"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.
Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."
Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.
"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.
"Gi..ta…"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.
"Gita di sini, Mas…"
Perlahan kelopak matanya terbuka.
"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.
"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.
Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.
Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.
Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.
"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.
Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.
Epilog:
Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.
Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.
Setitik air mataku jatuh lagi.
"Mas, Gita akhwat bukan sih?"
"Ya, insya Allah akhwat!"
"Yang bener?"
"Iya, dik manis!"
"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"
"Kok nanya gitu sih?"
"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"
"Ganteng kan?"
"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"
"Ya always dong, jihad itu…"
Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,Dan jadilah muslimah sejati. Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!
Ketika Mas Gagah Pergi
Oleh : Helvi Tyana Rosa
Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!
Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.
Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.
Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat. Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.
Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.
"Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?"
"Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!"
"Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?"
Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.
Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?
"Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…"Kata Mas Gagah pura-pura serius.
Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!
Itulah Mas Gagah!
Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…
"Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!" teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!
"Assalaamu’alaikum!"seruku.
Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.
"Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?" tanyanya.
"Matiin kasetnya!"kataku sewot.
"Lho memangnya kenapa?"
"Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!" aku cemberut.
"Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!"
"Bodo!"
"Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri," kata Mas Gagah sabar. "Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar."
"Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!"
"Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…"
"Pokoknya kedengaran!"
"Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!"
"Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!" Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.
Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?"
"Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!" begitu kata Mas Gagah.
Oala.
Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.
Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya "Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!"
Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!
Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.
"Penampilanmu kok sekarang lain Gah?"
"Lain gimana Ma?"
"Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…"
Mas Gagah cuma senyum. "Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun."
Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. "Jadi mirip Pak Gino." Komentarku menyamakannya dengan supir kami. "Untung aja masih lebih ganteng."
Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.
Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?"
"Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?" tegurku suatu hari. "Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!"
"Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu," dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. "Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!"
Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?"
Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku."Baca!"
Kubaca keras-keras. "Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim."
Mas Gagah tersenyum.
"Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…," kataku.
"Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?" Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. "Coba untuk mengerti ya dik manis?"
Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.
Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.
"Mau kemana Gita?"
"Nonton sama temen-temen." Kataku sambil mengenakan sepatu."Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya."
"Ikut Mas aja yuk!"
"Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!"
Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.
"Assalamualaikum!" terdengar suara beberapa lelaki.
Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.
"Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?"tanyaku iseng.
Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.
Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. "Ssssttt."
Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!
"Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!" Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.
"Ikhwan?’ ulangku. "Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?" Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.
"Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita." Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. "Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini."
Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.
"Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham."
Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.
"Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, " ujar Tika tiba-tiba.
"Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…" kataku jujur. "Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…"
Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin." Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.
"Mbak Ana?"
"Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.
"Hidayah."
"Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!"
"Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!" tegurku ramah.
‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!" Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.
"Dari rumah Tika, teman sekolah, "jawabku pendek. "Lagi ngapain, Mas?"tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…
"Cuma lagi baca!"
"Buku apa?"
"Tumben kamu pingin tahu?"
"Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?"desakku.
"Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.
Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. "Nih!"serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.
"Naah yaaaa!"aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku "Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam" itu.
"Maaas…"
"Apa Dik Manis?"
"Gita akhwat bukan sih?"
"Memangnya kenapa?"
"Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…" tanyaku manja.
Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.
Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.
"Mas kok nangis?"
"Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit."
Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…
"Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?" Tanya Mas Gagah tiba-tiba.
"Gita capek marahan sama Mas Gagah!" ujarku sekenanya.
"Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?"
"Tenang aja. Gita ngerti kok!" kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.
Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.
Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.
"Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?" tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, "Iya deh, iya!"
Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.
Aku nyengir kuda.
Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakakan.
"Nyoba pakai jilbab. Git!" pinta Mas Gagah suatu ketika.
"Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.
Mas Gagah tersenyum. "Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama."
Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.
"Gita mau tapi nggak sekarang," kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.
"Itu bukan halangan." Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.
Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.
"Ini hidayah, Gita." Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.
"Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.
"Lho! " Mas Gagah bengong.
Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, "Hei itu kan Mas Gagah-ku!"
Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, "Lho Mas Gagah kok bisa sih?" Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.
Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. "Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, " kata Mas Gagah.
Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.
Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.
Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.
Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.
"Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.
"Mas Gagah belum pulang. "kata Mama.
"Yaaaaa, kemana sih, Ma??" keluhku.
"Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…"
"Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. "
"Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini." Hibur Mama menepis gelisahku.
Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.
"Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!" Mama tertawa.
Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.
Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.
"Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh.." hibur Mama lagi.
Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.
"Nginap barangkali, Ma." Duga Papa.
Mama menggeleng. "Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa."
Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.
"Kriiiinggg!" telpon berdering.
Papa mengangkat telpon,"Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?"
"Ada apa, Pa." Tanya Mama cemas.
"Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…" suara Papa lemah.
"Mas Gagaaaaahhhh" Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.
Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.
Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.
Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.
" Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini." Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.
Mama dengan lebih tenang merangkulku. "Sabar sayang, sabar."
Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.
"Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?" tanyaku. "Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?" Air mataku terus mengalir.
Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.
"Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…" bisikku.
Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga."
Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. "Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi.."
"Gita…" suaraku serak menahan tangis.
Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah." Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.
"Mas…ini Gita Mas.." sapaku berbisik.
Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.
Kudekatkan wajahku kepadanya. "Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya."
Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.
"Dzikir…Mas." Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.
"Gi..ta…"
Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.
"Gita di sini, Mas…"
Perlahan kelopak matanya terbuka.
"Aku tersenyum."Gita…udah pakai…jilbab…" kutahan isakku.
Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.
"Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…" ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.
Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.
Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.
Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. "Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas," kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.
"Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.
Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.
Epilog:
Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.
Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.
Setitik air mataku jatuh lagi.
"Mas, Gita akhwat bukan sih?"
"Ya, insya Allah akhwat!"
"Yang bener?"
"Iya, dik manis!"
"Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!"
"Kok nanya gitu sih?"
"Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?"
"Ganteng kan?"
"Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?" Jihad itu apa sih?"
"Ya always dong, jihad itu…"
Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!
Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,Dan jadilah muslimah sejati. Agar Allah selalu besertamu.
Sun sayang,
Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!
Sunday, September 14, 2008
LOVE IS?????
Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur?
Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis?
Kenapa kita menutup mata ketika membayangkan sesuatu?
Hal-hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat.
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan dan ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan. Tapi ingatlah melepaskan bukan berarti akhir dari dunia, melainkan awal dari kehidupan yang baru…..
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
Kebahagiaan ada untuk mereka yang tlah mencari dan telah mencoba
Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang tlah menyentuh kehidupan mereka.
Cinta adalah ketika kamu menitikkan airmata, tetapi masih bisa peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata “ aku turut berbahagia untukmu “.
Apabila cintamu tidak berhasil,Bebaskanlah dirimu. Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayap dan terbang ke alam bebas lagi. Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya. Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya…
Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam berbagai hal. Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh. Entah bagaimana, dalam perjalanan
kehidupanmu kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan
menyadari bahwa penyesalan tak seharusnya ada dalam hidupmu.
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat
yang seharusnya ada dalam hidupmu.
Saat kamu berkata untuk meninggalkannya mungkin dia akan meninggalkanmu sesaat. Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri, tetapi pada saat-saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu, dan sewaktu dia jauh darimu. Dia akan selalu mendoakanmu dengan airmata.
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang itu berhenti mencintai kita…atau karena ia tidak mempedulikan kita. Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.
Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan, daripada berjalan bersama orang yang “ tersedia “.
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai daripada orang yang berada disekelilingmu.
Lebih baik menunggu orang yang tepat karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat untuk dibuang dengan hanya “ seseorang “, atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat.
Kadang kala orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu dan kadang kala teman yang membawamu didalam pelukannya, dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.
Ucapan yang keluar dari mulut seseorang dapat membangun orang lain. Tetapi
dapat juga menjatuhkan. Bila bukan diucapkan pada orang, waktu dan tempat yang benar…
Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana, ucapan yang keluar dari mulut seseorang dapat berupa kebenaran ataupun,kebohongan untuk menutupi isi hati.
Kita dapat mengatakan apa saja dengan mulut kita. Tetapi hati kita yang sebenarnya tidak dapat dipungkiri.
Apabila kamu hendak mengatakan sesuatu…tataplah matamu dicermin dan lihatlah kepada matamu. Dari situlah akan terpancar seluruh isi hatimu dan kebenaran akan dapat dilihat dari sana.
Ini buletin yg aku terima dr salah seorang sahabat baruku. Sepertinya ada nasihat yg tertuju buatku ya..hehe..pdhl dia ga pernah tau storyku..thx ya,sist..
Kenapa kita menutup mata ketika kita menangis?
Kenapa kita menutup mata ketika membayangkan sesuatu?
Hal-hal yang terindah di dunia ini biasanya tidak terlihat.
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan dan ada orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan. Tapi ingatlah melepaskan bukan berarti akhir dari dunia, melainkan awal dari kehidupan yang baru…..
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis
Kebahagiaan ada untuk mereka yang telah tersakiti
Kebahagiaan ada untuk mereka yang tlah mencari dan telah mencoba
Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang tlah menyentuh kehidupan mereka.
Cinta adalah ketika kamu menitikkan airmata, tetapi masih bisa peduli terhadapnya
Cinta adalah ketika dia tidak mempedulikanmu, kamu masih menunggunya dengan setia
Cinta adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu masih bisa tersenyum sambil berkata “ aku turut berbahagia untukmu “.
Apabila cintamu tidak berhasil,Bebaskanlah dirimu. Biarkanlah hatimu kembali melebarkan sayap dan terbang ke alam bebas lagi. Ingatlah, kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya. Tetapi saat cinta itu dimatikan, kamu tidak perlu mati bersamanya…
Orang yang terkuat bukanlah orang yang selalu menang dalam berbagai hal. Tetapi mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh. Entah bagaimana, dalam perjalanan
kehidupanmu kamu akan belajar tentang dirimu sendiri dan suatu saat kamu akan
menyadari bahwa penyesalan tak seharusnya ada dalam hidupmu.
Hanyalah penghargaan abadi atas pilihan pilihan kehidupan yang telah kau buat
yang seharusnya ada dalam hidupmu.
Saat kamu berkata untuk meninggalkannya mungkin dia akan meninggalkanmu sesaat. Memberimu waktu untuk menenangkan dirimu sendiri, tetapi pada saat-saat itu, hatinya tidak akan pernah meninggalkanmu, dan sewaktu dia jauh darimu. Dia akan selalu mendoakanmu dengan airmata.
Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang, bukan karena orang itu berhenti mencintai kita…atau karena ia tidak mempedulikan kita. Melainkan saat kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.
Lebih baik menunggu orang yang benar benar kamu inginkan, daripada berjalan bersama orang yang “ tersedia “.
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai daripada orang yang berada disekelilingmu.
Lebih baik menunggu orang yang tepat karena hidup ini terlalu berharga dan terlalu singkat untuk dibuang dengan hanya “ seseorang “, atau untuk dibuang dengan orang yang tidak tepat.
Kadang kala orang yang kamu cintai adalah orang yang paling menyakiti hatimu dan kadang kala teman yang membawamu didalam pelukannya, dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.
Ucapan yang keluar dari mulut seseorang dapat membangun orang lain. Tetapi
dapat juga menjatuhkan. Bila bukan diucapkan pada orang, waktu dan tempat yang benar…
Ini jelas bukan sesuatu yang bijaksana, ucapan yang keluar dari mulut seseorang dapat berupa kebenaran ataupun,kebohongan untuk menutupi isi hati.
Kita dapat mengatakan apa saja dengan mulut kita. Tetapi hati kita yang sebenarnya tidak dapat dipungkiri.
Apabila kamu hendak mengatakan sesuatu…tataplah matamu dicermin dan lihatlah kepada matamu. Dari situlah akan terpancar seluruh isi hatimu dan kebenaran akan dapat dilihat dari sana.
Ini buletin yg aku terima dr salah seorang sahabat baruku. Sepertinya ada nasihat yg tertuju buatku ya..hehe..pdhl dia ga pernah tau storyku..thx ya,sist..
Thursday, September 11, 2008
Phobia...
Entah kenapa..dulu diri ini phobia banget dengan kata-kata sakit. Tiap kali mendengar ada orang2 tercinta yang sedang sakit,mata berkaca-kaca dan rasanya sekujur tubuh ikutan lemas en tremor.Mungkin itu juga salah satu alasan kenapa aku memutuskan untuk membuang mimpi jadi dokter (alasan yang utama seh..karena ketidakmampuan otak).Ketika mama sakit bulan lalu,aku merasa sudah mampu menyingkirkan phobia itu.Walo..jujur aja..air mata itu tetep tumpah saat sujud panjang ditengah malam.Tapi setidaknya,aku sudah kuat melawan ketidaksukaanku pada rumah sakit.Dan..pengalaman menginap di RS selama beberapa hari membuatku mampu memahami hikmah dari "Sakit".Membuat mata hatiku terbuka untuk belajar arti sabar dan ikhlas dalam jenjang yang lebih tinggi.
Aku pikir setelah semua kejadian itu aku sudah lebih kuat untuk menerima kabar "sakit" dari siapa pun. Aku kira phobia itu sudah berhasil kukalahkan..
Tapi hari ini, aku tau aku salah..phobia itu masih ada dalam diriku. Berkisah dari kecemasanku terhadap seorang sahabat sejak minggu lalu.Ketika beberapa kali aku bermimpi tentang dia, ku merasa ada sesuatu terjadi padanya. Hingga kulihat tak pernah ada keberadaannya di YM selama 3 hari. Aku makin resah. Ingin bertanya, tapi tak bisa. Egoku memaksaku untuk belajar menahan diri. Mengontrol segala perasaan berlebihan mengenainya. Namun..bayangnya selalu ada dalam setiap sujud 1/3 malamku. Dan hari ini..seusai munajah dhuha, tak bisa kutahan diri untuk tak menelpon dirinya. Dan ku mendapat jawaban dari keresahanku selama ini, ternyata dia sakit. Phobia itu kembali menyerangku, seketika tubuhku lemas dan tremor. Mataku berkaca-kaca..
Dan Rabb..hal yang paling menyedihkan buatku adalah aku tak bisa tau keadaannya sebenarnya. Aku tak berhak untuk bertanya lebih banyak.
Dan malam ini..aku hanya bisa menitipkan tambahan seuntai doa untuknya kepadaMU Rabb..Semoga someone segera diberi kesembuhan. Dan..seperti pada malam2 sebelumnya..aku juga berharap padaMu semoga someone senantiasa diberi kebahagiaan untuk dunia dan akhiratnya.Semoga aku,dia dan seluruh orang-orang tercintaku selalu mendapat rahmat dan Berkah dariMu..Amin.
Aku pikir setelah semua kejadian itu aku sudah lebih kuat untuk menerima kabar "sakit" dari siapa pun. Aku kira phobia itu sudah berhasil kukalahkan..
Tapi hari ini, aku tau aku salah..phobia itu masih ada dalam diriku. Berkisah dari kecemasanku terhadap seorang sahabat sejak minggu lalu.Ketika beberapa kali aku bermimpi tentang dia, ku merasa ada sesuatu terjadi padanya. Hingga kulihat tak pernah ada keberadaannya di YM selama 3 hari. Aku makin resah. Ingin bertanya, tapi tak bisa. Egoku memaksaku untuk belajar menahan diri. Mengontrol segala perasaan berlebihan mengenainya. Namun..bayangnya selalu ada dalam setiap sujud 1/3 malamku. Dan hari ini..seusai munajah dhuha, tak bisa kutahan diri untuk tak menelpon dirinya. Dan ku mendapat jawaban dari keresahanku selama ini, ternyata dia sakit. Phobia itu kembali menyerangku, seketika tubuhku lemas dan tremor. Mataku berkaca-kaca..
Dan Rabb..hal yang paling menyedihkan buatku adalah aku tak bisa tau keadaannya sebenarnya. Aku tak berhak untuk bertanya lebih banyak.
Dan malam ini..aku hanya bisa menitipkan tambahan seuntai doa untuknya kepadaMU Rabb..Semoga someone segera diberi kesembuhan. Dan..seperti pada malam2 sebelumnya..aku juga berharap padaMu semoga someone senantiasa diberi kebahagiaan untuk dunia dan akhiratnya.Semoga aku,dia dan seluruh orang-orang tercintaku selalu mendapat rahmat dan Berkah dariMu..Amin.
Tuesday, September 09, 2008
CINTA SETULUS JIWA
By : Opick
Sebuah lagu yang didedikasikan untuk seluruh orang tua di dunia ini.
Dalam luka
Dalam duka
Engkau ada dan setia
Temani jiwa...
Surya yang memerah
Senja di langit dunia
Sunyi hatiku
Terbayang wajah mereka
Yang memelukku
Menjagaku
Memberiku kasih dan sayang
Mencintaiku
Merawatku tanpa lelah
Setulus jiwamu...
Jauh sudah langkah hari
Yang memanggil rindu
Di dalam hatiku padamu
Andai bisa ku mengulang waktu
Hanya tuk mengerti akanmu menyentuhmu...
Sebuah lagu yang didedikasikan untuk seluruh orang tua di dunia ini.
Dalam luka
Dalam duka
Engkau ada dan setia
Temani jiwa...
Surya yang memerah
Senja di langit dunia
Sunyi hatiku
Terbayang wajah mereka
Yang memelukku
Menjagaku
Memberiku kasih dan sayang
Mencintaiku
Merawatku tanpa lelah
Setulus jiwamu...
Jauh sudah langkah hari
Yang memanggil rindu
Di dalam hatiku padamu
Andai bisa ku mengulang waktu
Hanya tuk mengerti akanmu menyentuhmu...
RAPUH
By : Opick
detik waktu terus berjalan
berhias gelap dan terang
suka dan duka tangis dan tawa
tergores bagai lukisan
seribu mimpi berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadaMu
yang terindah dalam hidup
meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah padaMu
maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya
diriMu yang bertahta
detik waktu terus berlalu
semua berakhir padaMu
Lirik yang aku banget..!Rabb..maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMu, dalam dadaku harap hanya diriMu yang bertahta..
Karena kuyakin hanya cintaMu yang tak pernah berakhir..
detik waktu terus berjalan
berhias gelap dan terang
suka dan duka tangis dan tawa
tergores bagai lukisan
seribu mimpi berjuta sepi
hadir bagai teman sejati
di antara lelahnya jiwa
dalam resah dan air mata
kupersembahkan kepadaMu
yang terindah dalam hidup
meski ku rapuh dalam langkah
kadang tak setia kepadaMu
namun cinta dalam jiwa
hanyalah padaMu
maafkanlah bila hati
tak sempurna mencintaiMu
dalam dadaku harap hanya
diriMu yang bertahta
detik waktu terus berlalu
semua berakhir padaMu
Lirik yang aku banget..!Rabb..maafkanlah bila hati tak sempurna mencintaiMu, dalam dadaku harap hanya diriMu yang bertahta..
Karena kuyakin hanya cintaMu yang tak pernah berakhir..
My Fave Songs..
CAHAYA HATI
A song By: Opick
Allah engkau dekat penuh kasih sayang
Takkan pernah engkau biarkan hamba-Mu menangis
Karna kemurahan-Mu
Karna kasih sayang-Mu
Hanya bila diri-Mu
Ingin nyatakan cinta
Pada jiwa jiwa yang rela dia kekasih-Mu
Kau yang selalu terjaga yang memberi segala
Reff:
Allah Rahman Allah Rahim
Allahu Ya Ghafar Ya Nurul Qolbi
Allah Rohman Allah Rahim
Allahu Ya Ghafar Ya Nurul Qolbi
Di setiap nafas di segala waktu
Semua bersujud memuji memuja asma-Mu
Kau yang selalu terjaga yang memberi segala
Back to Reff:
Setiap mahluk bergantung pada-Mu
Dan bersujud semesta untuk-Mu
Setiap wajah mendamba cinta-Mu cahaya-Mu
Back to Reff:
Yaa Allah Ya Rahman
Yaa Allah Yaa Alllah Yaa Allah
Ya Nurul Qolbi
Yaa Allah
Selalu bergetar hati ini mendengar lirik diatas. Apalagi klo pas didengar di 1/3 malam. Sebagai pengiring tidur setelah bercengkrama denganNya.Bakal ga tidur lagi sampe Subuh..coz,rasanya waktu berduaan denganNya masih kurang.
CAHAYA-MU
a song by : UNGU
Kau bawa cahaya didalam hidupku
Saat ku membutuhkan dijalanku yang tertunda
Hatiku bertanya benarkah ku tlah berbakti
Ataukah ku saat ini hanya sekedar berjanji
Kau selalu ada saat jiwaku tiada
Kau beri cinta terindah saat hatiku terluka
Tak terbayangkan arti hidupku tanpa hadir-Mu
Kau hembuskan harapan ketika ku kehilangan
Hanya pada-Mu ku kembali
Hanya karna-Mu ku berjanji
Arti hidup hanya untuk-Mu Yaa Allah
Atas ijin-Mu ku terlahir
Atas kuasa-Mu ku berdiri
Iringilah setiap langkahku Yaa Allah..
SYUKUR ALHAMDULILLAH
a Song by :UNGU
lalu ku sakiti Engkau dengan dosaku
Ku balas segala kebaikan-Mu dengan kekurangan
Tiada pernah ku menyadari semuanya
Bahwa nafas yang ku hirup adalah kuasa-Mu
Reff:
Alhamdulillah ku syukuri semua
Terima kasihku Yaa Allah atas indahnya hidup
Alhamdulillah ku syukuri semua
Terima kasih ku Yaa Rabbi atas rahmat dalam hidupku
Selalu ku tingalkan Engkau dengan khilafku
Ku balas segala kemurahan-Mu dengan keburukkan
DENGAN NAFAS-MU
a Song by :UNGU
(OST : Para Pencari Tuhan Jilid II)
Izinkan ku ucap kata taubat
Sebelum Kau memanggilku
kembali pada-Mu, menutup waktuku
Izinkan ku serukan nama-Mu
Sebelum nyawa dalam tubuhku
Kau ambil, kembali pada-MU
[**]
Karna ku tahu, hanyalah pada diri-Mu
Tempatku mengadu, tempatku mengeluh
Di dalam do’aku
[***]
Dan demi nafas yang telah kau hembuskan dalam kehidupanku
Ku berjanji, ku akan menjadi yang terbaik
Menjalankan segala perintah-Mu, menjauhi segala larangan-Mu
adalah sebaris do’a ku untuk-Mu
PADA-MU KUBERSUJUD
a song by :AFGAN
Ku menatap dalam kelam
Tiada yang bisa ku lihat
Selain hanya nama-Mu Ya Allah
[^]
Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Lindungi aku dari segala fitnah
[^^]
Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa
[^^^]
Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Dalam sunyi aku bersujud
A song By: Opick
Allah engkau dekat penuh kasih sayang
Takkan pernah engkau biarkan hamba-Mu menangis
Karna kemurahan-Mu
Karna kasih sayang-Mu
Hanya bila diri-Mu
Ingin nyatakan cinta
Pada jiwa jiwa yang rela dia kekasih-Mu
Kau yang selalu terjaga yang memberi segala
Reff:
Allah Rahman Allah Rahim
Allahu Ya Ghafar Ya Nurul Qolbi
Allah Rohman Allah Rahim
Allahu Ya Ghafar Ya Nurul Qolbi
Di setiap nafas di segala waktu
Semua bersujud memuji memuja asma-Mu
Kau yang selalu terjaga yang memberi segala
Back to Reff:
Setiap mahluk bergantung pada-Mu
Dan bersujud semesta untuk-Mu
Setiap wajah mendamba cinta-Mu cahaya-Mu
Back to Reff:
Yaa Allah Ya Rahman
Yaa Allah Yaa Alllah Yaa Allah
Ya Nurul Qolbi
Yaa Allah
Selalu bergetar hati ini mendengar lirik diatas. Apalagi klo pas didengar di 1/3 malam. Sebagai pengiring tidur setelah bercengkrama denganNya.Bakal ga tidur lagi sampe Subuh..coz,rasanya waktu berduaan denganNya masih kurang.
CAHAYA-MU
a song by : UNGU
Kau bawa cahaya didalam hidupku
Saat ku membutuhkan dijalanku yang tertunda
Hatiku bertanya benarkah ku tlah berbakti
Ataukah ku saat ini hanya sekedar berjanji
Kau selalu ada saat jiwaku tiada
Kau beri cinta terindah saat hatiku terluka
Tak terbayangkan arti hidupku tanpa hadir-Mu
Kau hembuskan harapan ketika ku kehilangan
Hanya pada-Mu ku kembali
Hanya karna-Mu ku berjanji
Arti hidup hanya untuk-Mu Yaa Allah
Atas ijin-Mu ku terlahir
Atas kuasa-Mu ku berdiri
Iringilah setiap langkahku Yaa Allah..
SYUKUR ALHAMDULILLAH
a Song by :UNGU
lalu ku sakiti Engkau dengan dosaku
Ku balas segala kebaikan-Mu dengan kekurangan
Tiada pernah ku menyadari semuanya
Bahwa nafas yang ku hirup adalah kuasa-Mu
Reff:
Alhamdulillah ku syukuri semua
Terima kasihku Yaa Allah atas indahnya hidup
Alhamdulillah ku syukuri semua
Terima kasih ku Yaa Rabbi atas rahmat dalam hidupku
Selalu ku tingalkan Engkau dengan khilafku
Ku balas segala kemurahan-Mu dengan keburukkan
DENGAN NAFAS-MU
a Song by :UNGU
(OST : Para Pencari Tuhan Jilid II)
Izinkan ku ucap kata taubat
Sebelum Kau memanggilku
kembali pada-Mu, menutup waktuku
Izinkan ku serukan nama-Mu
Sebelum nyawa dalam tubuhku
Kau ambil, kembali pada-MU
[**]
Karna ku tahu, hanyalah pada diri-Mu
Tempatku mengadu, tempatku mengeluh
Di dalam do’aku
[***]
Dan demi nafas yang telah kau hembuskan dalam kehidupanku
Ku berjanji, ku akan menjadi yang terbaik
Menjalankan segala perintah-Mu, menjauhi segala larangan-Mu
adalah sebaris do’a ku untuk-Mu
PADA-MU KUBERSUJUD
a song by :AFGAN
Ku menatap dalam kelam
Tiada yang bisa ku lihat
Selain hanya nama-Mu Ya Allah
[^]
Esok ataukah nanti
Ampuni semua salahku
Lindungi aku dari segala fitnah
[^^]
Kau tempatku meminta
Kau beriku bahagia
Jadikan aku selamanya
Hamba-Mu yang slalu bertakwa
[^^^]
Ampuniku Ya Allah
Yang sering melupakan-Mu
Saat Kau limpahkan karunia-Mu
Dalam sunyi aku bersujud
Saturday, September 06, 2008
Sentuhan Cinta Untuk Jiwa..

Judul : CINTA DI UJUNG SAJADAH
Baca Novelnya, Dengarkan Lagunya...(Bonus CD lagu).
Penulis : Asma Nadia
Penerbit : Lingkar Pena
Harga : Rp. 44.500,-
Kenapa saya menulis buku ini?
Karena saya ingin menghangatkan kembali cinta ibu
di hati pembaca.
Rekan..., semoga buku ini maupun cd berisi senandung religi-nya
bisa menjadi teman baik di hari-hari ramadhan
salam
Asma Nadia
---------------
Namanya Makky Matahari Muhammad
dan Cinta menyimpan nama itu dengan baik di kepalanya.
Bukan karena salam yang diucapkan lelaki itu saat pertama bertemu.
Tetapi karena kehadirannya membawa pelangi dalam hidup Cinta.
Belasan tahun menjalani hidup sebagai piatu, Cinta bahkan tidak tahu wajah ibunya.
Ayah dengan sempurna melenyapkan setiap jejak perempuan terkasih itu.
Saat Ayah menikah dengan Mama Alia, dan membawa dua saudara tiri, Cinta semakin tersisih.
Ketika surga terenggut dari hari-hari Cinta, lelaki itu hadir.
Makky Matahari Muhammad yang humoris namun santun itu, mengenalkannya pada dunia lain yang memberi kebahagiaan. Hingga sebuah rahasia besar belasan tahun terbongkar dan Cinta harus menempuh perjalanan jauh yang memisahkannya dari laki-laki itu.
Ketika seluruh harapan menemui jalan buntu, Cinta berjuang.
Mencari kekuatan dalam sujud-sujud panjang.
Menelusuri jejak surga yang dirindukan
hingga tuntas saat senja di Madinah
Bacaan untuk Jiwa..

Judul : MENGGENGGAM CAHAYA - ANTOLOGI PUISI DAN KISAH INSPIRATIF
Sebuah Persembahan Cinta Antologi Sekolah Kehidupan
Penulis : Komunitas SekolahKehidupan.com (Lia Octavia, Novi Khanza', Dani Ardiansyah, Hamasah Putri, Retnadi Nur'aini dkk)
Cetakan : Pertama, Juli 2008
Penerbit : eSKa Publishing House
Tebal : 190 halaman
Harga : Rp. 30,000/buah
Dalam proses pembelajaran diri para insan yang arif dalam menjalani kehidupannya di dunia ini, penuh dengan berbagai warna, berbagai kisah, berbagai tantangan, berbagai pengalaman, yang penuh hikmah di baliknya, yang hanya bisa dilihat melalui hati dan jiwa yang bening. Jiwa yang senantiasa diliputi oleh cahaya Tuhan. Cahaya yang senantiasa tergenggam dalam setiap niat dan usaha. Cahaya yang menggulirkan cinta. Karena hidup adalah anugerah, hidup adalah kesempatan, hidup adalah cinta.
Semangat berkarya dan beramal yang telah mengilhami para anggota komunitas Sekolahkehidupan.com untuk menerbitkan karya-karya sahabat SK/MPers/Netters yang berserakan di dunia maya.
Buku yang merangkum 19 kisah inspiratif dan 31 puisi yang ditulis oleh sebagian besar anggota komunitas Sekolahkehidupan.com merupakan salah satu ruang untuk mengambil hikmah-hikmah yang tersembunyi dalam setiap peristiwa kehidupan dan mengambil pelajaran daripadanya.
"Buku ini bukan hanya inspiratif,
tapi juga menyemai banyak motivasi dan perenungan.
Tak salah bila disebut Sekolah Kehidupan"
(Melvy Yendra, penulis, editor, scriptwriter)
"Hidup adalah suatu rangkaian proses yang berulang. Dari satu generasi ke generasi, mulai dari terciptanya dunia, serta Adam dan Hawa. Selama dunia belum kiamat, maka sekolah kehidupan akan tetap ada. Tinggal kita saja yang harus menentukan. Ingin memanfaatkannya atau tidak."
(Sinang Bulawan, The Founder)
Tuesday, September 02, 2008
Belajar dari Mereka...


Postingan ini aku tulis, ketika mataku kembali terpancang pada dua foto yang telah menghias ruang makan keluarga diatas. Sengaja bapak memasang foto ini di meja makan agar setiap anak2nya bisa terus melihatnya (coz,ruang makan kan ruang wajib kunjung..hehe).
Foto anak-anak yang hidup di lingkungan pembuangan sampah ini memberi kami pembelajaran bahwa hidup ini selain berjuang juga harus bersyukur. Maka, saat semangat mulai terpuruk, semangat anak2 pemulung ini mengingatkan diri untuk kembali bangkit. Dan ketika, hati bersedih kala yang qta inginkan tidak teraih, kegembiraan yang tersirat dari bocah yang hanya memiliki sepotong tempe dan pemandangan sampah sebagai teman makannya, membuat diri ini malu untuk terus bersedih.
Foto itu telah terpasang lebih dari 10 tahun. Dan selama itu pula diri ini terus belajar untuk bisa seperti bocah-bocah itu..tetep semangat berjuang,mensyukuri dan menikmati apa yang telah dimiliki.
Undangan Ke Surga..
Ini ada Undangan ke Surga buat kita semua. Berhubung Multiplyku ga aktif, so undangannya aq copy paste dari Multiply-nya mbak Asma (Link di MyTeach4Writing "Asma Nadia").Moga2 bisa jadi sarana qta semua buat menuju Surga ya..Amiinn..
1000 Cinta Untuk 1000 Musholla
Indahnya
jika tidak hanya kita
yang bisa menghadapNya lima kali sehari
dengan kelengkapan sempurna
dengan kebersihan sempurna
dengan persembahan cinta sempurna.
Rekan tercinta,
mumpung pahala dilipatgandakan
mumpung ini bulan ramadhan
mari kita bantu saudara-saudara seiman
agar pertemuan mereka dengan Rob-nya
lebih khusyu dan indah...
-Anadia
Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah, anggota komunitas Sekolah Kehidupan.com, Asma Nadia, dan Ust Yusuf Mansur menyatakan kepedulian sosial dengan berbagi cinta untuk sesama.
Menjelang ramadhan yang penuh cinta, Komunitas Sekolah Kehidupan.com mengadakan program 1000 Cinta untuk 1000 Mushalla yaitu bakti social (baksos) dengan membagikan perlengkapan shalat (mukenah, sajadah, kain sarung, peci) dan Al Qur'an di tempat umum: Mushalla di terminal, stasiun. POM bensin, dan tempat publik yang lain, yang dinilai tak lagi memiliki alat shalat layak pakai.
Waktu pelaksanaan baksos:
Tgl 6 September 2008 s/d 14 September 2008 serentak di wilayah-wilayah Jabodetabek, Yogya (dan akan menyusul Bandung, Surabaya, Kaltim, Mesir)
Panitia menerima sumbangan dari sahabat-sahabat untuk disalurkan melalui program ini berupa:
1. Perlengkapan shalat baru
2. Perlengkapan shalat bekas yang layak pakai dan dalam keadaan bersih
3. Wakaf Al Qur'an
4. Uang
Sumbangan dapat diserahkan melalui para PJ wilayah yang terdekat dengan kediaman teman-teman seperti di daftar berikut ini:
Margo Widilaksono (PJ Jakarta Pusat)
Jl Raden Saleh Gg. 8 No 150 RT 021, RW 03
Jakarta Pusat
Tlp: 39899131/ 0813 11361916
Dyah Zakiati ( PJ Jakarta Timur)
Jl Kayu Manis I Lama No 15
RT 10 RW 8 Matraman
Jakarta Timur
HP: 081808358139
Inna Putri (PJ Jakarta Barat)
Jl.Kota Bambu Utara No.5 Rt 10/5
Jakarta Barat 11420
hape: 0815-923-8103
alamat kantor:
PT.Bringin Insurance
Gedung Dana Pensiun BRI Lt.4
Jl. Veteran II No.15
Jakarta Pusat
telp: 3840001 ext 28 (bagian Akuntansi)
Indarwati Harsono (PJ Depok)
Jl Tanah Baru, Perum Depok Mulya III
Blok AF No 1
RT 02 RW 01
HP: 0852 25162626
Dani Ardiansyah (PJ Jakarta Selatan)
Pondokan Bougenville
Jl Pangkalan Jati II No B2
Limo, Depok
HP: 0856 94771764/ 0852 21615514
Ayong (PJ Jakarta Utara)
Jl Pluit Dalam 3 No 2
RT 06 RW 08
Penjaringan, Jakarta Utara
HP: 0819 08606946
Divin Nahb (PJ Tangerang)
Jl Nenas Raya 40 RT 002 RW 05
Kel. Cibodasari Kec. Cibodas
Kota Tangerang, Banten 15138
HP: 0856 93765775
Andri Pranolo (PJ Yogya)
Gendeng GK IV/ 953
Yogyakarta 55225
HP: 0813 92554050
Hadian Febrianto, S.Si (PJ Bandung)
PT SAGA VISI PARIPURNA
Jl. Rereng Barong no.53 Bandung 40123
Ph/fax: (+6222) 2507537
HP: 081322360136
Buat MPers yang mau jadi PJ penerima waqaf di wilayah tertentu juga bisa
Sumbangan berupa uang dapat ditransfer ke rekening Retnadi Nur'aini di BNI, dgn no rek: 0108061745, BNI Cabang Senayan (Setelah transfer, mohon konfirmasi by SMS ke 0812 10698852/ 0813 25494096 mengenai nama dan besar jumlah transfer).
* Bantuan/sumbangan diterima oleh panitia baksos paling lambat tgl 5 September 2008.
* Bagi teman-teman yang ingin bergabung menjadi relawan dalam program ini, dapat menghubungi Galih di 087877328607, email galih@ asmo.co.id
Semoga Allah memudahkan & meridhai niat baik kita semua..amiin.
Salam Cinta
Panitia 1000 Cinta untuk 1000 Mushalla
Sekolahkehidupan.com
CP. Galih 087877328607
Retno 081210698852
Lia Octavia 08128146426
sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
http://sekolahkehidupan.multiply. com
www.sekolah-kehidupan.com
1000 Cinta Untuk 1000 Musholla
Indahnya
jika tidak hanya kita
yang bisa menghadapNya lima kali sehari
dengan kelengkapan sempurna
dengan kebersihan sempurna
dengan persembahan cinta sempurna.
Rekan tercinta,
mumpung pahala dilipatgandakan
mumpung ini bulan ramadhan
mari kita bantu saudara-saudara seiman
agar pertemuan mereka dengan Rob-nya
lebih khusyu dan indah...
-Anadia
Dalam rangka menyambut bulan Ramadhan yang penuh berkah, anggota komunitas Sekolah Kehidupan.com, Asma Nadia, dan Ust Yusuf Mansur menyatakan kepedulian sosial dengan berbagi cinta untuk sesama.
Menjelang ramadhan yang penuh cinta, Komunitas Sekolah Kehidupan.com mengadakan program 1000 Cinta untuk 1000 Mushalla yaitu bakti social (baksos) dengan membagikan perlengkapan shalat (mukenah, sajadah, kain sarung, peci) dan Al Qur'an di tempat umum: Mushalla di terminal, stasiun. POM bensin, dan tempat publik yang lain, yang dinilai tak lagi memiliki alat shalat layak pakai.
Waktu pelaksanaan baksos:
Tgl 6 September 2008 s/d 14 September 2008 serentak di wilayah-wilayah Jabodetabek, Yogya (dan akan menyusul Bandung, Surabaya, Kaltim, Mesir)
Panitia menerima sumbangan dari sahabat-sahabat untuk disalurkan melalui program ini berupa:
1. Perlengkapan shalat baru
2. Perlengkapan shalat bekas yang layak pakai dan dalam keadaan bersih
3. Wakaf Al Qur'an
4. Uang
Sumbangan dapat diserahkan melalui para PJ wilayah yang terdekat dengan kediaman teman-teman seperti di daftar berikut ini:
Margo Widilaksono (PJ Jakarta Pusat)
Jl Raden Saleh Gg. 8 No 150 RT 021, RW 03
Jakarta Pusat
Tlp: 39899131/ 0813 11361916
Dyah Zakiati ( PJ Jakarta Timur)
Jl Kayu Manis I Lama No 15
RT 10 RW 8 Matraman
Jakarta Timur
HP: 081808358139
Inna Putri (PJ Jakarta Barat)
Jl.Kota Bambu Utara No.5 Rt 10/5
Jakarta Barat 11420
hape: 0815-923-8103
alamat kantor:
PT.Bringin Insurance
Gedung Dana Pensiun BRI Lt.4
Jl. Veteran II No.15
Jakarta Pusat
telp: 3840001 ext 28 (bagian Akuntansi)
Indarwati Harsono (PJ Depok)
Jl Tanah Baru, Perum Depok Mulya III
Blok AF No 1
RT 02 RW 01
HP: 0852 25162626
Dani Ardiansyah (PJ Jakarta Selatan)
Pondokan Bougenville
Jl Pangkalan Jati II No B2
Limo, Depok
HP: 0856 94771764/ 0852 21615514
Ayong (PJ Jakarta Utara)
Jl Pluit Dalam 3 No 2
RT 06 RW 08
Penjaringan, Jakarta Utara
HP: 0819 08606946
Divin Nahb (PJ Tangerang)
Jl Nenas Raya 40 RT 002 RW 05
Kel. Cibodasari Kec. Cibodas
Kota Tangerang, Banten 15138
HP: 0856 93765775
Andri Pranolo (PJ Yogya)
Gendeng GK IV/ 953
Yogyakarta 55225
HP: 0813 92554050
Hadian Febrianto, S.Si (PJ Bandung)
PT SAGA VISI PARIPURNA
Jl. Rereng Barong no.53 Bandung 40123
Ph/fax: (+6222) 2507537
HP: 081322360136
Buat MPers yang mau jadi PJ penerima waqaf di wilayah tertentu juga bisa
Sumbangan berupa uang dapat ditransfer ke rekening Retnadi Nur'aini di BNI, dgn no rek: 0108061745, BNI Cabang Senayan (Setelah transfer, mohon konfirmasi by SMS ke 0812 10698852/ 0813 25494096 mengenai nama dan besar jumlah transfer).
* Bantuan/sumbangan diterima oleh panitia baksos paling lambat tgl 5 September 2008.
* Bagi teman-teman yang ingin bergabung menjadi relawan dalam program ini, dapat menghubungi Galih di 087877328607, email galih@ asmo.co.id
Semoga Allah memudahkan & meridhai niat baik kita semua..amiin.
Salam Cinta
Panitia 1000 Cinta untuk 1000 Mushalla
Sekolahkehidupan.com
CP. Galih 087877328607
Retno 081210698852
Lia Octavia 08128146426
sekolah-kehidupan@yahoogroups.com
http://sekolahkehidupan.multiply. com
www.sekolah-kehidupan.com
Subscribe to:
Posts (Atom)